Tag Archives: tentang shalat berjamaah

Cerama Yusuf Mansur “SYARAT SAH BERJAMA’AH”

Sirah Nabi Muhammad saw

Cerama Yusuf Mansur “SYARAT SAH BERJAMA’AH”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,   Syarat sah jama’ah ada enam, baik dilaksanakan di masjid atau di luar masjid.

Pertama, posisi tempat makmum tidak mendahului tempatnya imam:

Jika makmum sholat berdiri, maka tumitnya tidak diperkenankan mendahului tumit imam. Jika sholat duduk, maka tidak boleh mendahului dengan kedua pantat. Jika sholat tidur miring, maka lambungnya tidak boleh mendahului. Dan jika tidur terlentang, maka kepalanya tidak boleh mendahului tempatnya imam.

Batasan semua hal di atas adalah tempat anggota badan yang di buat tumpuan oleh makmum tidak boleh mendahului / lebih maju dari pada sebagian tempat anggota badan yang dibuat tumpuan oleh imam, baik dalam posisi berdiri atau yang lainnya.

Cerama Yusuf Mansur SYARAT SAH BERJAMA’AH           Bagi makmum laki-laki yang afdol adalah posisi jemari kakinya agak sedikit di belakang tumit imamnya, sekira tidak sejajar dan jaraknya tidak lebih dari tiga Dziro’.

  • Aturan tempat dalam sholat berjama’ah.

Bagi satu makmum laki-laki, sunnah bertempat di samping kanan imam. Jika ada makmum lain yang baru datang, maka dia bertempat di samping kiri imam, kemudian imam agak maju atau kedua makmum tersebut agak mundur, dan cara yang kedua ini lebih utama.

Jika yang menjadi makmum beragam, maka yang berada di belakang imam adalah makmum laki-laki, lalu bocah laki-laki, kemudian khuntsa dan yang paling belakang adalah perempuan.

Dalam jama’ahnya orang perempuan, maka posisi imamnya berada di tengah-tengah sejajar dengan makmumnya. Begitu juga jama’ah yang terdiri dari imam dan makmum yang dalam keadaan telanjang dan bisa melihat serta keadaannya tidak gelap.

-Permasalahan Al Jarru (As Sahb)

Al Jarru adalah keadaan ketika seorang makmum tidak menemukan tempat kosong di shof. Maka baginya sunnah menarik / al jarru salah satu makmum di depannya, namun dengan lima syarat yang terkumpul dalam baitnya sebagian ulama’ :

“disunnahkan menarik makmum yang merdeka dari shof depannya yang lebih dari dua orang

Yang dirasa akan mau kalau ditarik, dan menarik dalam keadaan berdiri, serta orang yang menarik sudah takbirotul ihram”

            Secara terperinci adalah sebagai berikut :

  1. Orang yang ditarik adalah orang merdeka, bukan budak.
  2. Orang yang ditarik berada pada shof yang terdiri lebih dari dua orang.
  3. Ada dugaan bahwa dia bersedia untuk ditarik.
  4. Menariknya dalam posisi berdiri.
  5. Orang yang menarik sudah melakukan takbirotul ihram.

Syarat sah jama’ah yang ke dua adalah makmum dapat mengetahui gerak-gerik imam, dengan melihat atau mendengar suara mubaligh (orang yang mengantarkan suara imam).

Sebagaimana yang diungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“di antara syaratnya adalah makmum mengetahui gerakan imam

Dengan melihat atau mendengar orang yang mengikuti imam”

            Syarat sah ke tiga, makmum niat mengikuti imam, berjama’ah atau niat makmum. Jika mengikuti imam saat melakukan salah satu rukun tanpa disertai niat berjama’ah dan telah menanti dalam rentan waktu yang cukup lama, maka sholatnya batal. Niat berjama’ah wajib bagi makmum tidak bagi imam kecuali dalam empat sholat yang mana imam juga wajib niat berjama’ah, yaitu :

Jual Kain Tenun
  1. Sholat Jum’ah.
  2. Sholat Mu`addah (sholat yang dilakukan lagi dan sholat sebelumnya sudah terlaksana dengan sah).
  3. Sholat jama’ taqdim sebab hujan.
  4. Sholat yang di nadzari untuk dilaksanakan berjama’ah.

Syarat ke empat, bentuk sholat imam dan makmum sama, yaitu bentuk rukun-rukun pekerjaan keduanya sama walaupun jumlah rokaat dan niatnya tidak sama. Sehingga tidak sah orang yang melaksanakan sholat lima waktu makmum pada orang yang sholat jenazah atau sholat gerhana.

Hukumnya sah orang yang melaksanakan sholat Dhuhur makmum pada orang yang melakukan sholat Ashar, sholat Maghrib makmum pada sholat Isya’, sholat qodlo’ pada sholat Ada’, sholat fardlu pada sholat sunnah begitu pula sebaliknya.

Syarat ke lima, makmum tidak melakukan perbedaan dengan imam di dalam kesunahan yang dianggap mencolok jika melakukan perbedaan pada hal itu, seperti sujud sahwi atau sujud tilawah.

Syarat ke enam, makmum harus mengikuti gerakkan imam. Jika makmum ketinggalan atau mendahului dua rukun dari imamnya tanpa udzur, maka sholatnya batal. Mengenai udzur-udzur akan dijelaskan di belakang.

Dalam mengikuti gerakan imam, sunnah bagi makmum untuk memulai gerakan setelah imam melakukan dan sebelum selesai dari gerakannya.

Jika imam dan makmum berada di masjid, maka di tambahkan satu syarat, yaitu :

-       Tidak ada sesuatu yang menghalangi makmum untuk sampai ke imam. Maksudnya makmum bisa mendatangi imam walaupun dengan belak belok atau berpaling dari kiblat saat menuju imamnya dengan cara berjalan yang biasa, tidak sampai lompat atau hal-hal yang tidak wajar.

Jika keduanya di luar masjid atau salah satunya di dalam masjid dan yang lain di luar, maka ditambah tiga syarat, yaitu :

  1. Tidak ada sesuatu yang menghalangi pandangan makmum. Maksudnya makmum bisa melihat imam atau melihat makmum lain yang melihat imam.
  2. Makmum bisa menuju imam tanpa berpaling dari kiblat. Jika terdapat penghalang yang mencegah makmum sampai ke imam, atau makmum dapat sampai ke imam dengan cara tidak menghadap kiblat, maka sholat jama’ahnya tidak sah.
  3. Jarak antara makmum dan imam tidak lebih dari tiga ratus dziro’ (kurang lebih 150 M).

Jika keduanya di dalam masjid, maka tidak masalah walaupun jaraknya lebih dari tiga ratus dziro’.

Jika keduanya di luar masjid, maka tidak diperkenankan melebihi tiga ratus dziro’.

Jika salah satunya di dalam masjid dan yang lain di luar, maka juga tidak diperkenankan melebihi tiga ratus dziro’. Dan tiga ratus dziro’ pada bagian ini dihitung dari batas akhir masjid tidak dari shof yang terakhir yang berada di dalam masjid.

  • Permasalah-Permasalahan Terkait Syarat-Syarat Jama’ah.
  1. Pintu yang tertutup di masjid tidaklah bermasalah (tidak dianggap penghalang). Sedangkan pintu yang terkunci atau dipaku dianggap penghalang.
  2. Jika di antara keduanya terdapat sesuatu yang menghalangi sampai ke imam seperti jendela kaca di masjid, maka hukum jama’ahnya tidak sah walaupun makmum bisa mengetahui gerakan imam
  3. Jika di dalam masjid, tidak disyaratkan makmum bisa melihat imam.
  4. Tidak masalah antara imam dan makmum terpisah oleh jalan raya. Begitu pula sungai yang besar dan lautan ketika keduanya berada di perahu yang berbeda.
  5. Jika makmum berada di lantai atas dan imam berada di lantai bawah atau sebaliknya, maka menurut pendapat yang kuat (mu’tamad) harus memenuhi syarat-syarat yang telah dijelaskan di depan. Namun menurut sebagian pendapat, di samping syarat-syarat yang telah di jelaskan, juga disyaratkan harus sejajar, sekira kalau di andaikan yang bawah berjalan ke atas niscaya kepalanya akan tepat di bawah kaki orang yang atas, semua ini jika di luar masjid. Jika di dalam masjid, maka kedua pendapat sepakat bahwa tidak disyaratkan hal yang demikian.

“ Ditulis oleh al Habib al Alamah Zain ibn Ibrahim ibn Sumith, semoga Allah memberi perlindungan pada beliau

Demikian artikel yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan bermanfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca Artikel Kami Lainnya >>> Jalan Para Muslim “Jalan Lurus Menuju Surga”

toko buku islam murah
FacebookTwitterGoogle+