Tag Archives: tentang bulan puasa

KITAB MENJELASKAN PUASA

Sirah Nabi Muhammad saw

KITAB  MENJELASKAN PUASA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pengertian Puasa

Secara bahasa, puasa memiliki arti mutlaknya mencegah. Di antara yang memiliki arti ini adalah firman Allah Swt dalam surat Maryam ayat 26 :

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.”

       Yaitu nadzar untuk mencegah dari berbicara.

Diantaranya lagi adalah ungkapan seorang peyair yang mensifati peperangan :

خَيْلٌ صِيَامٌ وَخَيْلٌ غَيْرُ صَائِمَةٍ # تَحْتَ الْعَجَاجِ وَأُخْرَى تَعْلُكُ اللُّجُمَا

“kuda yang diam dan yang tidak diam

Berada di bawah debu yang berhamburan. Dan kuda yang lain menggerak-gerakkan kendalinya.”

            Secara syara’, puasa mempunyai arti mencegah dari segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat tertentu.

Dalil asal puasa adalah firman Allah Swt dalam surat al Baqarah ayat 183 :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,.

-       Waktu Di Wajibkannya Puasa

Puasa diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah. Baginda Nabi Muhammad Saw sempat melaksanakan puasa Romadlon sembilan kali, dan semuanya tidak genap tiga puluh hari kecuali satu Romadlon saja.

-       Nama Romadlon

Bulan Romadlon adalah bulan ke sembilan dari bulan-bulan Arab dan merupakan bulan yang paling utama. Di namakan Romadlon yang memiliki arti panas, karna orang arab saat memberi nama bulan ini bertepatan dengan cuaca yang sangat panas, sehingga mereka menamakan bulan ini dengan nama Romadlon dari kata ar Romdlo’ yang mempunyai arti panas sekali.

Ada yang mengatakan bahwa nama ini karena bulan Romadlon adalah bulan yang membakar / menghapus segala dosa.

-       Keutamaan Puasa

Banyak ayat al Qur’an dan hadits Nabi Saw yang menjelaskan tentang keutamaan puasa, di antaranya adalah firman Allah Swt dalam surat al Haqqah ayat 24 :

(kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.

       Dan firman Allah Swt dalam surat al Ahzab ayat 35 :

“laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

            Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah Swt berfirman, “sesungguhnya setiap kebaikan akan mendapat pahala sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat kecuali pahala puasa, maka puasa itu hanya untuk-Ku dan Akulah yang akan memberi balasan atas puasa tersebut”.

Dalam sebuah hadits juga disebutkan, “barang siapa berpuasa di jalan Allah, maka dia akan dijauhkan dari neraka Jahannam dengan jarak yang ditempuh selama seratus tahun.”

Juga dalam hadits, “orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, yaitu gembira saat berbuka dan gembira dengan puasanya saat menghadap Allah (kelak di hari kiamat).”

Begitu juga dalam hadist yang berbunyi, “diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya adalah ibadah, doanya mustajab dan amal perbuatannya di lipat gandakan”.

Serta hadits, “puasa merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari bara api neraka”.

-       Hukum-Hukum Puasa

Puasa memiliki empat hukum, yaitu wajib, sunnah, makruh dan haram.

  1. Wajib, yaitu dalam enam puasa :

-       Puasa Romadlon.

-       Puasa Qodlo’.

-       Puasa Kafarat, seperti kafarat Dlihar, kafarat membunuh dan kafarat jima’ di bulan Romadlon.

-       Puasa di dalam haji dan umroh sebagai ganti dari menyembelih Fidyah.

-       Puasa Istisqo’ ketika ada perintah dari imam / pemerintah.

-       Dan puasa Nadzar.

  1. Sunnah yang merupakan hukum asal dalam berpuasa. Puasa sunnah terbagi menjadi tiga :
  2. Puasa sunnah yang berulang-ulang dengan berulang-ulangnya tahun seperti puasa hari Arafah, Tasu’ah, Asyura’, tanggal sebelas bulan Muharram, enam hari di bulan Syawal, bulan-bulan yang mulia, sepuluh hari pertama bulan Dzil Hijjah dan puasa-puasa yang lain.
  3. Puasa sunnah yang berulang-ulang dengan berulang-ulangnya bulan seperti puasa Bidl yaitu tanggal 13, 14, 15 dari setiap bulan, puasa di yaumul Sud yaitu tanggal 28, 29, 30.
  4. Puasa sunnah yang berulang-ulang dengan berulang-ulangnya minggu seperti puasa hari Senin dan hari Kamis.

Semua di atas sebagaimana yang diungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“ hukumnya sunnah puasa di hari Arafah

Kecuali bagi orang yang sedang haji karena bisa melemahkannya

Enam hari di  bulan Syawal dan dengan terus menerus

Itu lebih utama, Tasu’a, dan Asyura’

Puasa hari Senin begitu juga Kamis

Beserta yaumul Bidl……….”

-       Puasa sunnah yang paling utama adalah puasa sehari dan berbuka sehari terus silih berganti, dan ini adalah puasa Nabi Dawud As.

  1. Makruh, yaitu hanya melakukan puasa di hari Jum’at, Sabtu atau Minggu, dan puasa setahun penuh bagi orang yang mempunyai kekhawatiran terjadi dampak negatif atau akan kehilangan hak-hak sunnah yang lain.
  2. Haram. Puasa yang haram terbagi menjadi dua :

-       Puasa haram namun tetap sah yaitu puasanya seorang istri tanpa seizin suami, dan puasanya seorang budak tanpa seizin tuannya.

-       Puasa haram dan tidak sah. Puasa ini ada dalam lima bentuk :

  1. Puasa hari raya Idul Fitri, yaitu hari pertama bulan Syawal.
  2. Puasa hari raya Idul Adha, yaitu tanggal sepuluh bulan Dzul Hijjah.
  3. Puasa hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, 13 bulan Dzul Hijjah.
  4. Puasa separuh bulan kedua dari bulan Sya’ban, yaitu mulai tanggal 16 hingga akhir bulan.
  5. Puasa Yaumus Sak, yaitu tanggal tiga puluh bulan Sya’ban yang mana banyak orang yang mengatakan bahwa hilal Romadlon telah terlihat, atau ada orang yang bersaksi telah melihat hilal Romadlon namun persaksiannya tidak diterima, seperti persaksian orang perempuan atau anak kecil.

-       Kapankah diperkenankan berpuasa saat hari Sak atau separuh bulan kedua dari bulan Sya’ban?

Jawaban : diperkenankan berpuasa saat hari Sak atau separuh bulan kedua bulan Sya’ban dalam tiga keadaan :

  1. Ketika melakukan puasa wajib seperti puasa Qodlo’, kafarat atau Nadzar.
  2. Ketika memiliki kebiasaan berpuasa seperti biasa melaksanakan puasa Senin Kamis.
  3. Ketika menyambung separuh bulan kedua bulan Sya’ban dengan hari-hari sebelumnya, semisal puasa tanggal 15, maka diperkenankan puasa pada hari 16, 17 dan seterusnya hingga akhir bulan. Jika di pertengahan tidak puasa sehari saja, maka seterusnya diharamkan berpuasa.

Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“ tidak sah berpuasa  pada hari raya

Hari tasyrik dan hari Sak / tardid

Kecuali sesuai dengan adat atau nadzar

Atau menyambung dengan hari-hari sebelumnya”

-       Syarat Sah Puasa

Jika semua syarat terpenuhi, maka hukum puasa yang di laksanakan adalah sah. Syarat sah puasa ada empat, yaitu :

  1. Islam. Disyaratkan selama melaksanakan puasa (sepanjang siang) harus dalam keadaan islam. Sehingga, jika murtad sebentar saja, maka hukum puasanya batal.
  2. Berakal. Selama berpuasa harus dalam keadaan berakal. Jika sebentar saja mengalmi gila, maka hukum puasanya batal. Sedangkan kalau pingsan, epilepsy atau mabuk, maka akan dijelaskan di belakang dalam bab yang menjelaskan hal-hal yang membatalkan puasa.
  3. Bersih dari haidl dan nifas. Sepanjang siang disyaratkan seorang wanita harus bersih dari haidl dan nifas. Sehingga jika seorang wanita mengalami haidl di tengah siang, maka hukum puasanya batal. Begitu juga jika suci di tengah siang, namun bagi wanita yang berhenti haidlnya di siang hari sunnah untuk menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.
  4. Mengetahui bahwa hari tersebut sah untuk melakukan puasa, maksudnya orang yang berpuasa harus mengetahui bahwa hari akan dipuasai itu memang sah untuk melakukan berpuasa.

-       Syarat Wajib Puasa

Jika semua syarat ini terpenuhi, maka wajib berpuasa. Syarat wajib puasa ada lima, yaitu :

  1. Islam. Maka orang kafir tidak dituntut melaksanakan puasa ketika masih di dunia. Sedangkan bagi orang murtad wajib mengqodlo’ puasa yang ditinggalkan selama murtad ketika sudah kembali masuk islam, karena sebagai bentuk hukuman atas perbuatannya.
  2. Mukallaf yaitu baligh dan berakal. Adapun anak kecil, maka tidak wajib berpuasa, namun bagi walinya wajib memerintah anak tersebut berpuasa ketika berusia tujuh tahun, dan  memukulnya jika meninggalkan dan kuat untuk berpuasa saat berusia sepuluh tahun.
  3. Mampu berpuasa. Mampu berpuasa ditinjau dari dua aspek, aspek dhohir dan aspek syara’.

-       Dhohir : Maka tidak wajib puasa bagi orang yang sudah sangat tua dan orang sakit yang tidak ada harapan sembuh.

-       Syara’ : Maka tidak wajib berpuasa bagi wanita haidl dan nifas.

4. Sehat. Maka tidak wajib puasa bagi orang sakit.

-       Batasan sakit yang diperkenankan untuk tidak berpuasa : Sakit yang jika berpuasa, maka dikhawatirkan meninggal dunia, memperlambat kesembuhan, atau bertambah sakit. Dan ini disebut dengan hal-hal yang memperbolehkan tayamum (مَحْذُوْرُ التَّيَمُّمِ ).

5. Muqim. Maka tidak wajib puasa bagi musafir yang melakukan perjalanan jauh (82 Km) yang di perkenankan oleh syara’. Disyaratkan _ boleh untuk tidak berpuasa _ harus berangkat sebelum fajar / shubuh.

-       Yang afdol bagi musafir adalah berpuasa jika tidak merasa berat. Jika merasa berat, maka yang lebih afdol adalah tidak berpuasa.

-       Rukun Puasa Ada Dua :

Rukun pertama : niat.

Baik puasa fardlu atau sunnah, karena sabda baginda Nabi Muhammad Saw, “sah tidaknya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya”.

Perbedaan Di Antara

Niat Puasa Fardlu Dan Puasa Sunnah

Niat puasa fardlu

Niat puasa sunnah

  1. Waktu niat puasa fardlu mulai magrib hingga terbitnya fajar dan wajib dilakukan malam hari.
  2. Wajib menentukan puasa yang akan di lakukan, seperti Romadlon, nadzar atau qodlo’.
  3. Tidak diperkenankan mengumpulkan dua puasa fardlu dalam satu niatan sehari.
    1. Waktu niat puasa sunnah mulai maghrib hingga tergelincirnya matahari, dan tidak wajib dilakukan malam hari.
    2. Tidak wajib menentukan puasa yang akan di lakukan kecuali puasa sunnah yang memiliki waktu tertentu, seperti hari Arafah menurut pendapat mu’tamad.
    3. Di perkenankan mengumpulkan dua puasa sunnah atau lebih dalam satu niat dalam sehari.

-       Di Perkenankan Melakukan Niat Puasa Sunnah Setelah Fajar Dengan Dua Syarat :

  1. Niat di laksanakan sebelum tergelirncirnya matahari / sebelum masuk waktu Dhuhur.
  2. Belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga waktu melaksanakan niat.

Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“ syarat puasa sunnah yaitu niat puasa

 Sebelum waktu dhuhur untuk setiap harinya

Jika puasa fardlu maka kita syaratkan niat

Yang telah di tentukan di malam hari”.

            Niat yang paling sempurna adalah mengucapkan dengan lisan dan menghadirkan di dalam hati lafadz :

“نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِهَذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى “

“saya niat melaksanakan puasa esok hari untuk melaksanakan kewajiban bulan Romadlon tahun ini karena Allah ta’ala”

-       Permasalahan

Dalam bentuk bagaimanakah puasa sunnah dapat di laksanakan dengan niat yang di lakukan setelah fajar walaupun sudah melakukan sesuatu yang membatalkan puasa sebelum niat ?

Jawaban : Bentuknya adalah ketika dia memiliki kebiasaan melaksanakan puasa di hari tertentu seperti hari Senin atau hari Arafah, akan tetapi dia lupa pada hari tersebut sehingga melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, namun setelah itu dia ingat bahwa hari itu adalah hari Senin atau hari Arafah, maka bagi dia sah melakukan niat puasa dengan syarat belum masuk waktu Dhuhur.

Rukun ke dua, meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa dalam keadaan ingat, atas kemauan sendiri, dan tidak bodoh yang dianggap udzur. Maka puasanya tidak batal jika melakukan hal-hal yang membatalkan puasa dalam keadaan lupa, di paksa / terpaksa atau bodoh yang di anggap udzur.

Orang yang bodoh dan di anggap udzur adalah salah satu dari dua orang, yaitu :

  1. Orang yang hidup di tempat yang jauh dari ulama’.
  2. Orang yang baru masuk islam.

-       Penetapan Kewajiban Puasa Romadlon.

Kewajiban puasa Romadlon ditetapkan oleh salah satu dari lima perkara. Dua perkara adalah kewajiban yang ditujukan secara umum, yaitu ketika bulan Romadlon telah di tetapkan di hadapan Qodli. Tiga perkara adalah kewajiban yang ditujukan pada perindividu seperti yang akan dijelaskan di belakang.

-       Hal yang menetapkan kewajiban puasa pada semua orang / ditujukan pada orang umum.

  1. Dengan sempurnanya bulan Sya’ban tiga puluh hari.
  2. Persaksian satu orang adil atas terlihatnya hilal Romadlon. Yang dimaksud orang adil di sini adalah orang yang memenuhi syarat-syarat diterimanya persaksian, yaitu laki-laki, merdeka, rosyid (pintar), mempunyai harga diri, mempunyai daya ingat yang baik, bisa berbicara, bisa mendengar, bisa melihat, tidak pernah melakukan dosa besar, tidak selalu melakukan dosa kecil, atau selalu melakukan dosa kecil namun nilai taatnya lebih banyak dari pada dosa kecil yang di lakukannya.

Yang di maksud dengan “secara umum” adalah wajib berpuasa bagi seluruh penduduk daerah / Negara dan orang-orang yang berada di daerah yang satu Mathla’ (berbarengan terbit dan tenggelamnya matahari) menurut imam Nawawi. Sedangkan menurut imam ar Rofi’i, ketika hilal Romadlon di tetapkan di suatu daerah, maka bagi penduduk daerah yang berjarak 82 Km juga wajib melaksanakan puasa.

-       Hal yang menetapkan kewajiban puasa pada individual :

  1. Melihat hilal bagi yang melihatnya, walaupun dia adalah orang fasiq.
  2. Mendapat berita terlihatnya hilal, dan dalam hal ini terdapat perincian : jika yang memberi berita adalah orang terpercaya, maka wajib berpuasa bagi yang mendapat berita, baik dia membenarkan berita tersebut atau tidak. Jika yang memberi berita bukan orang terpercaya, maka tidak wajib berpuasa kecuali bagi yang membenarkan berita tersebut.
  3. Menyangka masuk bulan Romadlon dengan ijtihad bagi orang yang mengalami keserupaan terhadap masuknya bulan Romadlon seperti mendengar mikrofon atau melihat kobaran api.

Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“ wajib puasa Romadlon dengan salah satu

Dua hal, yaitu dengan sempurnanya bulan Sya’ban 30 hari

Atau satu orang adil melihat hilal Romadlon

Wajib bagi orang yang tinggal di daerah di bawah masafah qosor”

-       Permasalahan-Permasalahan Tentang Ru’yah Hilal :

1. Jika ada seseorang yang telah melaksanakan puasa tiga puluh hari sebab mendapat berita dari orang yang dia yaqini akan kebenarannya, maka apakah dia diperkenankan tidak berpuasa setelah tiga puluh hari ??

Jawaban : Menurut imam Romli, diperkenankan tidak berpuasa namun harus sembunyi-sembunyi. Sedangkan menurut imam Ibn Hajar tidak diperkenankan tidak berpuasa karena berita seperti di atas bukanlah Hujjah Syar’iyah, berbeda dengan berita yang disampaikan orang adil, sehingga wajib bagi dia untuk tetap puasa dalam rangka kehati-hatian.

2. Jika ada seorang laki-laki yang melakukan perjalanan dari daerahnya di hari terakhir bulan Sya’ban dalam keadaan tidak berpuasa karena tidak melihat hilal, dan ketika sampai ke daerah tujuan ternyata penduduknya dalam keadaan berpuasa, maka bagaimanakah hukumnya ?? atau sebaliknya, yaitu dia bepergian dalam keadaan berpuasa namun penduduk daerah tujuan ternyata tidak berpuasa??

Jawaban : Jika penduduk daerah tujuan dalam keadaan berpuasa, maka laki-laki tersebut wajib ikut berpuasa. Jika dalam keadaan tidak berpuasa, maka meurut imam ar Romli wajib ikut tidak berpuasa. Sedangkan menurut imam Ibn hajar, tidak boleh membatalkan puasa karena dia berpuasa berdasarkan pada keyaqinan telah melihat hilal sehingga tidak diperkenankan menyalahinya hanya karena berada di daerah lain yang belum puasa.

3. Jika di hari terakhir bulan Romadlon seseorang melakukan perjalanan dalam keadaan berpuasa karena telah hilal Syawal belum terlihat di daerahnya, dan ketika sampai di daerah tujuan ternyata penduduknya tidak berpuasa, atau sebaliknya, maka bagaimanakah hukumnya ??

Jawaban : Menurut pendapat al Ashah, dalam dua keadaan di atas wajib bagi orang tersebut untuk menyesuaikan diri dengan apa yang dilakukan oleh penduduk setempat, karena dia sudah menjadi bagian dari mereka.

-       Kesunahan-Kesunahan Di Dalam Puasa Dan Di Bulan Romadlon :

  1. Segera berbuka puasa ketika sudah yaqin masuk Maghrib. Berbeda jika masih ragu-ragu, maka wajib untuk berhati-hati dengan mengakhirkan berbuka hingga yaqin sudah masuk maghrib.
  2. Sahur walaupun dengan seteguk air. Waktu sahur mulai dari tengah malam.
  3. Mengakhirkan sahur namun tidak terlalu mepet shubuh. Sunnah untuk berhenti makan makanan sebelum fajar dengan jarak yang cukup untuk membaca 50 ayat (1/4 jam).

Sebagaimana yang diugkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“ ketika yaqin masuk maghrib, di sunnahkan

Segera berbuka, sedangkan untuk sahur sebaliknya (sunnah mengakhirkan)”

4. Berbuka dengan kurma basah dengan jumlah ganjil. Jika tidak ada, maka dengan kurma yadam, lalu kurma kering, lalu air Zamzam, lalu air, lalu hulwun , kemudian halwa.

Hulwun adalah makanan manis yang tidak diproses dengan api seperti madu dan anggur.

Halwa adalah makanan manis yang diproses dengan api.

Urutan ini telah diungkapkan sebagian ulama’ dalam sebuah nadzom :

“ mulai dari kurma basah, lalu kurma madam, lalu kurma kering lalu zamzam

Lalu air putih, hulwun, kemudian halwa, maka bagimu untuk berbuka”

5. Membaca doa berbuka, yaitu :

” اللَّهُمَّ لّكَ صُمْتُ وَبِكَ أَمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ, الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَعَانَنِيْ فَصُمْتُ وَرَزَقَنِيْ فَأَفْطَرْتُ. اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَلِيْ “

“ya Allah, hanya karena-Mu lah aku berpuasa, kepada-Mu lah aku beriman, dan dengan rizqi-Mu lah aku berbuka. Dahaga telah hilang, urat-urat telah terpenuhi dan pahala telah menjadi tetap, jika Allah menghendaki. Segala puji bagi Allah, Tuhan yang telah memberi pertolongan padaku sehingga aku bisa berpuasa, dan telah memberi rizqi padaku sehingga aku bisa berbuka. Ya Allah, dengan perantara rahmat-Mu yang menyeluruh ke seluruh sesuatu, sesungguhnya aku memohon pada-Mu agar Engkau mengampuniku.”

Jual Kain Tenun

            Dan berdoa apa saja yang dikehendaki.

6. Memberi jamuan berbuka, karena hal ini mengandung pahala yang sangat besar.

7. Mandi jinabat sebelum fajar karena menghindari perselisihan di antara ulama’, dan supaya dalam keadaan suci sejak awal berpuasa.

8. Mandi setiap malam di bulan Romadlon setelah waktu maghrib, agar semangat dan segar saat beribadah di malam hari.

9. Melaksanakan sholat taraweh sejak malam pertama hingga akhir Romadlon. Nabi Muhammad Saw bersabda, “barang siapa melakukan ibadah di bulan Romadlon karena iman dan mengharap ridlo Allah, maka seluruh dosa yang telah dia lakukan akan diampuni oleh Allah”. Yang di maksud dengan beribadah itu adalah sholat taraweh.

10. Sangat di anjurkan untuk melaksanakan sholaat witir. Sholat witir di bulan Romadlon memiliki tiga keistimewaan :

-       Sunnah di laksanakan dengan berjama’ah.

-       Sunnah mengeraskan suara.

-       Menurut  pandapat Mu’tamad, Sunnah membaca doa qunut di separuh kedua dari bulan Romadlon.

11. Memperbanyak membaca al Qur’an dengan merenungkan maknanya.  Dalam sebuah Atsar disebutkan, “ Romadlon adalah bulam al Qur’an”.

12. Memperbanyak sholat sunnah seperti sholat Rowatib, Duhah, Tasbih dan sholat Awwaibn.

13. Memperbanyak amal sholeh seperti sedekah, silaturrohmi, menghadiri majlis ilmu, i’tikaf, umroh, menghadap Allah _ dengan menjaga hati dan anggota badan_ dan membaca do’a-do’a yang diriwayatkan dari Rosulullah Saw.

14. Berusaha menemukan malam Lailatul Qodar di sepuluh hari terakhir terutama di hari-hari ganjilnya.

15. Berusaha berbuka dengan barang yang halal sebagaimana yang diungkapkan oleh imam Abdullah ibn Husain ibn Thohir dalam kitab Hidayah as Shodiq :

“ berbukalah dengan barang halal

Wahai orang yang mencari kesempurnaan”

16. Tausi’ah (agak royal) pada keluarga.

17. Meninggalkan hal-hal yang tidak berguna / bermanfaat dan saling mencaci. Jika ada orang yang mencaci, maka ingatlah di dalam hati bahwa sesungguhnya dirinya sedang berpuasa.

-Faedah : Imam Abu Hamid al Ghozali, penyusun kitab Ihya’ berkata, “ puasa terbagi menjadi tiga :

  1. Puasa umum (orang awam), yaitu puasa / menahan dari segala hal yang bisa membatalkan puasa.
  2. Puasa khusus (Khawash), yaitu puasa / menahan dari segala kemaksiatan.
  3. Puasa khusus dari yang khusus (khawasul khawas), yaitu puasa / menjauhkan diri dari selain Allah Swt.

-       Hal-Hal Yang Di Makruhkan Saat Berpuasa Ada Delapan :

  1. Al ‘Alqu, yaitu menguyah sesuatu tanpa ada sedikitpun yang masuk ke perut / ke dalam. Jika sampai ada yang masuk, maka puasanya batal.
  2. Mencicipi makanan tanpa ada hajat dan tidak ada sedikitpun yang masuk ke dalam. Jika menguyah karena ada hajat, maka tidak makruh.
  3. Cantuk, yaitu mengeluarkan darah. Hal ini dimakruhkan karena terdapat perselisihan diantara ulama’ mengenai hukumnya, di samping juga bisa melemaskan badan. Sebagaimana makruh mencantuk diri sendiri, juga hukumnya makruh mencantuk orang lain.
  4. Membuang air yang pertama kali masuk ke dalam mulut saat berbuka, karena hal ini bisa menghilangkan berkah puasa, sebagaimana yang diungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“dimakruhkan melakukan ‘Alqu, mencicipi makanan, cantuk

Dan memuntahkan / membuang air saat berbuka puasa”

5. Menyelam dalam air walaupun karena melakukan mandi wajib.

6. Bersiwak setelah waktu Dhuhur, karena bisa menghilangkan bau mulut sebab berpuasa. Namun imam an Nawawi lebih memilih hukum tidak makruh. Sebagaimana yang diungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“Adapun bersiwak bagi orang yang berpuasa setelah Dhuhur

Maka yang di pilih adalah hukum tidak makruh. Dan haram menyambung puasa”

7. Banyak makan dan tidur serta berbica tentang hal-hal yang tidak berfaedah, karena bisa menghilangkan faedah puasa.

8. Menikmati kesenangan-kesenangan yang mubah baik hal-hal yang dicium, dilihat ataupun didengar.

# Perkara-Perkara Yang Membatalkan Puasa.

Perkara yang membatalkan puasa terbagi menjadi dua :

  1. Perkara yang membatalkan pahala puasa walaupun puasanya sah sehingga tidak wajib mengqodlo’. Bagian ini disebut al Muhbithat (hal-hal yang membatalkan pahala).
  2. Perkara yang membatalkan puasa begitu juga pahalanya _ jika tanpa udzur_ sehingga wajib mengqodlo’. Bagian ini disebut dengan al Mufthirat (hal-hal yang membatalkan puasa).

Bagian pertama : Al Muhbithot

Yaitu hal-hal yang membatalkan pahala puasa. Nabi Muhammad Saw bersabda, “banyak sekali orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa haus dan lapar saja”.

  1. Al Ghibah, yaitu berbicara tentang orang lain dengan hal-hal yang tidak disukainya walaupun itu benar adanya.
  2. An Namimah, yaitu memindah ucapan dengan tujuan memunculkan fitnah (adu domba).
  3. Bohong, yaitu memberi berita yang tidak sesuai dengan kenyataan.
  4. Melihat hal-hal yang haram atau halal tetapi disertai nafsu birahi (syawat), yaitu menikmati apa yang dilihat.
  5. Sumpah palsu / bohong.
  6. Berkata dusta(الزُّوْرُ)  , jelek dan berbuat kejelekan. Dalam hadits disebutkan,  “barang siapa berpuasa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap apa yang dia lakukan dengan tidak makan dan minum (puasanya)”.

Bagian kedua : Al Mufthirot

Yaitu hal-hal yang membatalkan puasa ada delapan :

  1. Murtad, yaitu memutus islam dengan niat, ucapan, atau perbuatan walaupun murtad yang terjadi hanya sebentar saja.
  2. Haidl, nifas dan melahirkan di siang hari walaupun sebentar saja.
  3. Gila walaupun sebentar saja.
  4. Pingsan dan mabuk, jika keduanya terjadi seharian. Jika sempat sadar _ walaupun sebentar_, maka menurut pendapat Mu’tamadnya imam ar Romli, hukum puasanya sah. Sebagaimana yang diungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“ jika orang yang pingsan sadar di sebagian hari

Walaupun sebentar sekali maka puasanya sah”

Sedangkan menurut imam Ibn Hajar, hukum puasanya batal jika kedua hal di atas terjadi karena keteledoran walaupun terjadinya hanya sebentar. Sedangkan menurut ulama’ yang lain hukum puasanya tidak batal kecuali karena keteledoran dan terjadi sepanjang hari.

5. Jima’ (hubungan kelamin). Jika dilakukan dengan sengaja dan mengetahui akan keharamannya serta di lakukan atas kemauan sendiri, maka hukum puasanya batal. Jika seseorang membatalkan puasa sehari di bulan Romadlon dengan jima’ yang diharamkan, maka dia akan menanggung lima sangsi atas perbuatannya :

-Mendapatkan dosa.

-Wajib menahan diri dari segala yang membatkan puasa sepanjang hari _ walaupun puasanya sudah batal_.

-Wajib dita’zir, yaitu hukuman dari hakim jika memang tidak bertaubat.

-Wajib mengqodlo’.

-Membayar kafarat Udhmah, yaitu salah satu dari tiga perkara secara berurutan. Sehingga tidak boleh melakukan tingkatan kedua kecuali sudah tidak mampu melakukan tingkatan sebelumnya. Kafarat itu adalah sebagai berikut :

  1. Memerdekakan budak mukmin.
  2. Puasa dua bulan berturut-turut.
  3. Memberi makan enam puluh orang miskin. Setiap orang satu mendapatkan satu mud.

Kafarat ini diwajibkan pada laki-laki tidak pada perempuan. Jumlah kafarat akan bertambah sesuai dengan berapa hari yang dibatalkan.

Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofawatul Zubad :

“ wajib membayar kafarat bagi orang yang membatalkan puasa sehari

 Di bulan Romadlon jika melakukan jima’ yang di haramkan

Seperti kafaratnya orang Dhihar, tidak wajib bagi pihak perempuan

Jumlah kafarat akan bertambah di seseuaikan dengan hari yang di batalkan”

6. Masuknya benda (‘ain) ke dalam tubuh (الجَوْفُ) melalui jalan / rongga yang terbuka di badan (المَنَافِذُ).

Dari kata “ Ain / benda ” mengecualikan angin, maka tidak masalah jika angin masuk ke dalam tubuh, begitu pula sekedar rasa atau bau tanpa bendanya. Maka tidak batal puasa seseorang jika kedua hal tersebut masuk ke dalam tubuh.

Dari kata  “ jalan / rongga yang terbuka ” mengecualikan benda yang masuk ke dalam badan melalui rongga yang tidak terbuka semisal minyak dan sesamanya yang masuk melalui pori-pori.

Di dalam madzhab asy Syafi’i, seluruh Manafidz itu terbuka (membatalkan) kecuali mata. Dan menurut imam al Ghozali, selain mata juga telinga yang tidak termasuk manafidz yang terbuka.

Yang dimaksud dengan bagian dalam tubuh  (الجَوْفُ) adalah bagian tubuh yang memproses makanan dan obat yaitu perut, atau memproses obat saja yaitu otak.

-       Permasalahan-Permasalahan Tentang Benda Yang Masuk Ke Dalam Tubuh :

1. Hukum jarum suntik : Diperkenankan menggunakan jarum suntik ketika darurat, namun ulama’ berbeda pendapat mengenai apakah jarum suntik bisa membatalkan puasa ataukah tidak.

-Satu pendapat mengatakan bahwa jarum suntik bisa membatalkan puasa secara mutlak, karena jarum tersebut masuk ke dalam tubuh.

-Satu pendapat mengatakan bahwa jarum suntik tidak membatalkan puasa secara mutlak karena masuknya ke dalam tubuh tidak melalui rongga badan yang terbuka.

-Satu pendapat memerinci _ ini pendapat yang Ashah_ : jika yang di masukkan adalah sesuatu yang menguatkan badan, maka membatalkan puasa. Jika tidak menguatkan, maka di lihat : Jika melalui urat-urat, maka membatalkan. Jika melalui otot, maka tidak membatalkan.

2. Terdapat perincian mengenai hukum menelan dahak :

-Jika dahak sudah berada di batas badan bagian luar, maka hukum menelannya bisa membatalkan puasa.

-Jika dahak berada di bagian dalam badan, maka hukum menelannya tidak membatalkan puasa.

Batas bagian luar adalah makhroj huruf kho’. Sedangkan batas bagian dalam adalah makhroj huruf ha’ (هـ). Sedangkan mahroj huruf ha’ (ح) masih diperselisihkan. Menurut imam an Nawawi makhroj huruf ha’ (ح) termasuk bagian luar, sehingga puasa menjadi batal jika menelan dahak yang sudah berada di batas ini. Sedangkan menurut imam ar Rofi’i, makhroj huruf ha’ (ح) termasuk bagian dalam sehingga tidak membatalkan puasa menelan dahak yang berada di batas ini.

3. Hukum menelan ludah. Menelan ludah tidak membatalkan puasa karena dianggap sulit menghindarinya namun dengan tiga syarat :

-Harus ludah yang murni tidak bercampur barang lain. Jika menelan ludah yang sudah bercampur dengan tinta atau yang lainnya, maka hukum puasanya batal.

-Harus dalam keadaan suci tidak terkena najis.

-Harus berada pada sumbernya yaitu lidah dan seluruh bagian mulut. Sehingga, jika menelan ludah yang sudah berada di bagian merahnya bibir, maka hukum puasanya batal.

4. Terdapat perincian mengenai hukum air yang masuk ke dalam tubuh tanpa sengaja saat mandi bagi orang yang berpuasa :

-Jika mandi yang dilakukan adalah mandi yang dianjurkan oleh sariat, baik wajib seperti mandi jinabat, atau sunnah seperti mandi Jum’at, maka air yang masuk tanpa sengaja tidak membatalkan puasa, jika memang mandi dengan cara menuangkan air ke badan. Jika dengan cara  menyelam ke dalam air, maka hukum puasanya batal sebab masuknya air tanpa sengaja.

-Jika mandi yang dilakukan hanya mubah saja (tidak sunnah dan tidak wajib), maka air yang masuk ke dalam badan bisa membatalkan puasa walaupun masuknya tanpa sengaja, baik dengan cara menuangkan air ataupun menyelam.

5. Terdapat perincian mengenai air yang masuk ke dalam badan tanpa sengaja saat berkumur dan memasukkan air ke hidung :

a. Jika berkumur itu disunnahkan saat mandi besar dan wudlu’, maka di lihat :

-       Jika tidak terlalu keras saat berkumur, maka air yang terlanjur masuk tanpa sengaja tidak membatalkan puasa.

-       Jika terlalu keras sehingga ada air yang masuk tanpa sengaja, maka hukum puasanya batal, karena terlalu keras saat berkumur hukumnya adalah makruh bagi orang yang sedang berpuasa.

b. Jika berkumur itu tidak disunnahkan semisal kumur yang ke empat atau berkumur selain saat wudlu’ dan mandi besar, maka air yang masuk tanpa sengaja bisa membatalkan puasa walaupun tidak terlalu keras berkumurnya.

Hal ke tujuh yang membatalkan puasa adalah berusaha mengeluarkan sperma baik dengan tangan sendiri, tangan istri, berpelukkan, menghayal atau melihat yang telah di ketahui bahwa keduanya bisa mengeluarkan sperma. Jika sampai mengeluarkan sperma dengan salah satu cara di atas, maka hukum puasanya batal.

-Ringkasan permasalahan keluar sperma, adakalanya membatalkan puasa dan adalakanya tidak membatalkan puasa. Keluar sperma bisa membatalkan puasa dalam dua keadaan :

  1. Sengaja berusaha mengeluarkan sperma, maka secara mutlak membatalkan puasa baik mengeluarkan dengan cara apapun.
  2. Keluar sperma sebab bersentuhan dengan istri tanpa ada penghalang.

Keluar sperma tidak membatalkan puasa dalam dua keadaan :

  1. Ketika keluar  bukan karena bersentuhan seperti memandang atau menghayal.
  2. Ketika keluar karena bersentuhan namun ada penghalangnya.

-Hukum berciuman : Hukum berciuman adalah haram jika bisa membangkitkan nafsu birahi. Jika tidak sampai membangkitkan, maka hukumnya khilaful aula. Namun berciuman tidak membatalkan puasa kecuali ketika keluar sperma karenanya.

Hal yang membatalkan yang ke delapan adalah sengaja muntah, maka hukum puasanya batal walaupun yang keluar hanya sedikit.

Yang dimaksud dengan muntahan adalah makanan yang keluar setelah melewati tenggorokan walaupun berupa air, dan walaupun rasa dan baunya tidak berubah.

Hukum ketika ada muntahan yang keluar dari dalam : Ketika ada yang keluar, maka hukum mulut menjadi najis sehingga wajib dibasuh dan berkumur dengan keras agar seluruh bagian mulut yang luar bisa terbasuh semua. Jika ada air yang masuk ke dalam tanpa sengaja saat berkumur , maka tidak membatalkan puasa karena menghilangkan najis merupakan hal yang di perintahkan sariat.

-       Membatalkan Puasa Dan Hal Yang Wajib Dilakukan Karenanya Terbagi Menjadi Empat :

  1. Ada dua keadaan membatalkan puasa yang mewajibkan qodlo’ dan membayar fidyah :

-       Membatalkan puasa karena khawatir pada orang lain seperti wanita hamil yang membatalkan / tidak berpuasa karena khawatir pada janinnya, atau wanita menyusui yang khawatir pada bayi yang disusuinya. Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“ wajib membayar satu mud dan mengqodlo, bagi wanita hamil

Dan wanita menyusui jika khawatir pada bayinya”

Jika keduanya khawatir pada diri sendiri dan bayinya, maka tidak ada kewajiban kecuali hanya qodlo’ saja.

-       Membatalkan puasa beserta mengakhirkan qodlo’ _dan mungkin untuk mengqodlo’_ hingga masuk Romadlon  berikutnya tanpa ada udzur.

Fidyah adalah satu mud untuk setiap harinya diambil dari bahan makanan pokok daerah setempat. Hitungan Fidyah bertambah banyak di sesuaikan dengan jumlah tahun yang di lewati.

2.   Membatalkan puasa yang mewajibkan qodlo’ tanpa harus membayar fidyah, yaitu seperti orang yang batal puasanya sebab pingsan, lupa tidak niat di malam hari, dan orang yang membatalkan puasa dengan selain jima’ tanpa ada udzur.

3.   Membatalkan puasa yang mewajibkan bayar fidyah tanpa wajib mengqodlo’, seperti orang yang sudah sangat tua dan orang sakit yang tidak ada harapan sembuh.

4.   Membatalkan puasa yang tidak mewajibkan mengqodlo’ dan tidak mewajibkan bayar fidyah. Seperti orang yang batal puasanya sebab gila yang bukan dikarenakan keteledorannya.

Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“…………………………………………………….

Perkenankanlah membatalkan puasa karena khawatir mati

Karena sakit dan bepergian jauh

Wanita menyusui dan wanita hamil yang khawatir

Terjadi bahaya pada dirinya

Dan wajib mengqodlo’ tanpa harus membayar fidyah

Orang yang tidak berpuasa sebab tua sekali, maka wajib

Membayar satu mud untuk setiap harinya tanpa harus mengqodlo’

-      Ada enam keadaan tidak berpuasa yang mewajibkan qodlo’ dan wajib menahan diri dari segala yang membatalkan puasa hingga masuk waktu Maghrib, yaitu :

  1. Orang yang tidak berpuasa tanpa udzur.
  2. Orang yang tidak niat di malam hari walaupun karena lupa.
  3. Orang yang sahur karena menyangka masih malam namun ternyata salah.
  4. Orang yang berbuka puasa karena menyangka sudah masuk Maghrib namun ternyata salah.
  5. Orang yang tidak berpuasa pada tanggal tiga puluh Sya’ban yang ternyata sudah masuk bulan Romadlon.
  6. Orang yang menelan air tanpa sengaja saat berkumur, Istinsaq dan mandi yang tidak sunnah dan wajib.

-      Ada tujuh keadaan yang tidak membatalkan puasa ketika ada benda yang masuk ke dalam tubuh dari rongga tubuh yang terbuka, yaitu :

  1. Benda masuk tubuh sebab lupa.
  2. Benda masuk tubuh karena tidak tahu kalau hal tersebut bisa membatalkan puasa dan ketidaktahuannya karena udzur.
  3. Benda masuk ke tubuh karena paksaan yang telah memenuhi syarat.
  4. Benda masuk ke tubuh karena menelan ludah murni dan suci yang membawa sisa-sisa makanan yang berada di selah-selah gigi.
  5. Debu di jalanan yang masuk ke mulut.
  6. غُرْبَلَةُ الدَّقِيْقِ (debu terigu) dan sesamanya yang masuk ke tubuh.
  7. Lalat dan sesamanya yang terbang dan masuk ke dalam tubuh.

-      Permasalahan-Permasalahan Umum Di Dalam Puasa :

  1. Ketika anak kecil telah baligh, musafir telah muqim atau orang sakit sembuh dalam keadaan berpuasa, maka haram bagi mereka membatalkan puasa dan wajib menyempurnakannya.
  2. Ketika wanita haidl dan nifas telah suci, orang gila telah sembuh atau orang kafir masuk islam di siang hari bulan Romadlon, maka sunnah bagi mereka untuk menahan diri dari segala yang membatalkan puasa. Tidak wajib mengqodlo’ bagi orang gila yang sudah sembuh dan orang kafir yang masuk islam.
  3. Wajib bagi orang murtad untuk mengqodlo’ puasa yang di tinggalkan saat murtad walaupun saat itu dia gila.
  4. Kesalahan fatal yang banyak dilakukan oleh orang-orang adalah bergegas minum saat mendengar adzan Shubuh, karena mereka berkeyaqinan bahwa diperbolehkan minum selama muadzin masih adzan, padahal hal itu tidak diperbolehkan. Bagi yang melakukannya, maka puasanya batal, dan wajib mengqodlo’ jika puasa yang dilakukan adalah puasa fardlu, karena seorang muadzin tidak melaksanakan adzan kecuali telah terbit fajar, sehingga minum saat adzan itu sama saja dengan minum saat terbitnya fajar, hal ini mereka lakukan tidak lain karena bodoh dan tidak ada satupun ulama’ yang memperkenankan hal ini.
  5. Ketika seseorang meninggal dunia dan mempunyai tanggungan qodlo’ puasa Romadlon atau kafarat padahal dia mampu melaksanakan saat masih hidup, maka bagi Wali (kerabat) diperkenankan untuk melaksanakan puasa atas nama mayyit, atau mengeluarkan makanan satu mud untuk setiap harinya.
  6. Diperkenankan membatalkan puasa sunnah walaupun tanpa udzur. Dan tidak diperkenankan membatalkan puasa wajib ketika tidak ada udzur, baik puasa Romadlon, Qodlo’ Romadlon, nadzar atau puasa-puasa wajib lainnya.
  7. Haram menyambung puasa dua hari atau lebih tanpa di selah-selahi hal-hal yang membatalkan puasa.
  8. Wajib segera mengqodlo’ puasa fardlu jika membatalkannya / tidak melaksanakannya tanpa ada udzur. Dan tidak wajib segera (boleh di tunda) mengqodlo’ jika ditinggalkan karena ada udzur, seperti bepergian, sakit atau lupa niat.
  9. Ketika melihat orang yang berpuasa sedang makan di siang hari, maka jika dhohir keadaan orang tersebut adalah orang yang bertaqwa kepada Allah Swt, maka sunnah untuk mengingatkannya. Jika sosok dhohir orang tersebut sembrono di dalam urusan agama, maka wajib diingatkan.

“ Ditulis oleh al Habib al Alamah Zain ibn Ibrahim ibn Sumith, semoga Allah memberi perlindungan pada beliau

Demikian artikel yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan bermanfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca Artikel Kami Lainnya >>> Hukum Islam “Bacaan Dzikir Setelah Sholat”

toko buku islam murah
FacebookTwitterGoogle+