Tag Archives: naskah ceramah agama islam

Ceramah Islam : Lebih Mengutamakan Pendapat Pribadi Dalam Segala Hal

Sirah Nabi Muhammad saw

Ceramah Islam : Lebih Mengutamakan Pendapat Pribadi Dalam Segala Hal

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Para pembaca yang dirahmati oleh Allah SWT, pada dasarnya ide ataupun pendapat seseorang adalah nikmat sekaligus bencana bagi dirinya sendiri. Apabila kita utarakan, maka kita akan menjadi tawanannya, terbelenggu dengan rantai-rantainya. Sedangkan manfaatnya adalah untuk kita dan kita pula yang akan menanggung akibat buruknya. Oleh karenanya jika kita selalu mengutamakan pendapat pribadi kita dalam setiap urusan, maka kita akan terbelenggu oleh kesalahan-kesalahan kita sendiri. Sebab kita tidak mengetahui pendapat, orang lain dan hal itulah yang akan membuat kita menanggung akibatnya seperti menyimpang dari pergaulan. Dan penyimpangan itu yang nantinya membuat kita salah kaprah dengan istilah pergaulan, sehingga kita tidak bisa menghargai orang lain ketika bergaul dalam halaqoh. Selain itu hal ini pulalah yang akan mengarahkan pendapat atau pembicaraan kita menjadi fitnah akibat kita tergesa-gesa dan selalu mengutamakan pendapat pribadi kita dalam segala urusan.

Ceramah Islam Lebih Mengutamakan Pendapat Pribadi Dalam Segala HalJika demikian kita tidak akan mendapatkan ketenangan hati dan jiwa saat kita mengutarakan pendapat kita pada orang lain. Dan ketidaktenangan kita dalam mengutarakan pendapat kita pada orang lain justru akan semakin membuat kita terjebak dalam perilaku yang salah kaprah. Jika hal itu terjadi maka yang ada dalam benak kita hanyalah bagaimana cara untuk merendahkan dan menjatuhkan pendapat orang lain ketika dalam halaqoh. Dan perilaku yang demikian adalah salah satu ciri orang yang tidak bisa menghargai pendapat orang lain, sehingga dengan mudah bagi mereka mencelanya. Sementara orang yang tidak bisa menghargai pendapat orang lain dan lebih mengutamakan pendapat pribadinya dalam segala urusan, maka mereka itulah orang-orang yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya Allah menciptakan perbedaan pada setiap hambanya. Dan perbedaan itu merupakan warna dari kehidupan yang harus kita jalani tanpa saling merendahkan serta mencela antara yang satu dengan yang lainnya.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Qs. Al-Hujuraat : 11)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karena orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Dan jangan pula memanggil dengan panggilan yang buruk, sebab panggilan itu ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan pangglian seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya. Apabila kita mencela dan memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk berarti kita telah berada dalam kesalahan berbicara dalam bergaul, dan itu merupakan ketamakan serta kesombongan diri kita dalam segala hal dalam pergaulan. Diantara manusia ada yang tamak untuk menampakkan dirinya, memperlihatikan kemampuan dan pengalamannya, serta menunjukkan orang 1ain tentang kecerdikan dan kecemerlangan idenya. Dengan ketamakan itu yang nantinya akan membuat kita berada dalam pergaulan yang salah, karena hal itu akal menjadikan kita mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama. Kita pun akan melihatnya tamak menampakkan pendapatnya pada setiap perkara yang kecil maupun yang besar, dan tergesa-gesa mengungkapkannya baik pada tempatnya maupun bukan, baik ditanya maupun tidak. Jika demikian maka bisa jadi kita mencela pendapat orang lain dengan kata-kata yang mengadung ejekan, sehingga hal itulah yang membuat kita merendahkan teman bergaul kita. Dan semua itu tanpa melihat kesudahan atau memperhatikan maslahatnya.

Jual Kain Tenun

Perilaku ataupun perbuatan ini berlawanan dengan sifat teguh dan bisa menjatuhkan pelakunya ke dalam kekeliruan dan kesalahan. Dan kesalahan itu yang akhirnya membuat kita tidak dapat menjaga bicara kita ketika bergaul dalam halaqoh. Sebab tidak ada kebaikan dalam ide yang belum matang, tidak pula ucapan yang ceplas-ceplos. Dalam hal ini pepatah Arab mengatakan: “Salah merupakan bekal orang yang tergesa-gesa”.

Oleh karena itu, tidaklah bijak seseorang yang tergesa-gesa mengungkapkan pendapat, terutama dalam sebuah pergaulan. Sebab bisa jadi pendapatnya itu keluar dari kebenaran dan menyimpang dari keadaan yang sebenarnya. Bahkan bisa jadi membawanya pada fanatik dengan pendapatnya walaupun tidak benar, agar tidak dicela dengan sifat tergesa-gesa dan keliru. Sebaliknya apabila dia pelan dan berhati-hati, maka hal itu lebih cepat mengundang jernihnya tabiat, karena lebih pantas agar pendapatnya lebih matang di otak dan lebih pantas selamat dari kesalahkaprahan. Dengan begitu pendapat yang kita keluarkan tidak akan menyimpang dan lebih mengutamakan kepentingan bersama dalam segala urusan.

Dalam hal ini sesungguhnya bangsa Arab menyanjung orang yang pelan, berhati-hati dan memperlihatkan luar dan dalam masalah. Yang mana mereka menyebutnya, “Dia orang yang cerdik dan awas”. Dengan kecerdikannya itulah yang nantinya akan membawanya pada pergaulan yang baik dan tidak lagi mengutamakan pendapat pribadinya sendiri.

Untuk itu tidak dikatakan bijaksana orang yang mengungkapkan pendapatnya pada setiap urusan yang ia ketahui, bahkan walaupun ia bersikap tenang dan berhati-hati di dalam memberikan hukuman dan walaupun pendapatnya itu benar. Karena tidak setiap ide harus diungkapkan dan tidak setiap yang dia ketahui harus diutarakan. Akan tetapi, sikap bijak justru akan menuntut seseorang agar menyimpan idenya untuk dirinya sendiri, kecuali jika keadaan menuntut hal itu dan ada hikmah serta maslahatnya.

Seorang bijak mengatakan: “Sungguh, di dalam memulai pembicaraan terdapat fitnah yang menggiurkan dan ketergesa-gesaan yang mencengangkan. Apabila hati sudah tenang, pikiran lurus dan jiwa jernih, maka hendaklah ia mengkaji ulang dan hendaklah rasa senang dengan kebaikannya adalah dengan sama dengan rasa sedih akibat dampak buruknya.

Dan salah seorang penyair berkata; “Timbanglah kata-kata jika hendak berbicara. Karena berbicara akan menampakkan yang baik dan yang buruk”

Apabila kita memikirkan serta menimbang segala kata-kata ketika berbicara, maka hanya kebaikan yang akan kita tampakkan dalam pembicaraan itu. Dengan begitu kita tidak lagi tergesa-gesa dalam mengungkapkan pendapat.

Ibnu Hibban mengatakan: Orang yang tenang hampir tidak dapat didahului, sementara orang yang tergesa-gesa hampir tidak dapat menyusul.

Sesungguhnya orang yang tergesa-gesa adalah berbicara sebelum mengetahui, menjawab sebelum mengerti, memuji sebelum mencoba dan mencela setelah memuji. Dia bertekad sebelum berfikir dan melangkah sebelum menguatkan tekad. Orang yang tergesa-gesa adalah ditemani oleh sesal serta di jauhi oleh keselamatan. Sehingga dalam hal ini bangsa arab menyebut sikap tergesa-gesa sebagai otak penyesalan. Dan penyesalan itu yang membuat kita tidak dapat menjaga diri dari kesalahan-kesalahan dalam bersikap ketika bergaul. Dengan begitu kita tidak lagi lebih mengutamakan pendapat pribadi kita di atas kepentingan orang lain.

Oleh sebab itu, jika kita tidak bisa mengendalikan lidah serta diri kita dari kesalahan sikap dan kata-kata, maka hendaknya diam. Karena hal itu yang akan membuat kita tidak menjadikan pendapat pribadi kita dalam segala urusan sebagai salah satu bentuk kesalahan yang akhirnya menjerumuskan kita dalam penyesalan dan kesalahkaprahan. Untuk itu sebagaimana orang yang diam, hampir tidak pernah menyesal. Begitu juga orang yang berbicara, hampir tidak pernah selamat.

Dengan demikian diam adalah hal terbaik agar kita tidak lagi merasa bahwa pendapat kita adalah yang lebih baik dari pada orang lain, dan kita pun tidak lagi memonopoli pendapat kita ketika kita bergaul dalam halaqoh. Selain itu jika kita dapat menata kata-kata atau pendapat dengan baik berarti kita telah menjaga lisan kita dari kesalahkaprahan dalam bergaul.

Demikian ceramah tentang lebih mengutamakan pendapat pribadi dalam segala hal yang bisa kami sampaikan semoga bermanfaat bagi semua pembaca. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (penulis : Naning Purwandari)

Baca Artikel Kami Lainnya >>> Ceramah Islam : Sahabat Sejati

toko buku islam murah
FacebookTwitterGoogle+