Tag Archives: mukadimah ceramah islam

Mukadimah Ceramah Islam “Air Dalam Islam”

Sirah Nabi Muhammad saw

Mukadimah Ceramah Islam “Air Dalam Islam”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pada kesempatan kali ini kami ingin membagi ilmu berkaitan dengan Air menurut Islam.

Definisi Air

Air adalah cairan jernih dan lembut yang berwarna sesuai dengan tempatnya, dan Allah menciptakan rasa segar saat meneguknya.

-       Di tinjau dari sumber dan tempatnya, air terbagi menjadi tujuh. Tiga berasal dari langit yaitu air hujan, salju dan embun. Dan empat berasal dari tanah yaitu air laut, sumur, sungai dan sumber.

Tingkatan keutamaan air yang dinadzomkan sebagian ulama’ adalah sebagai berikut  :

“air yang paling utama adalah air yang keluar dari jemari Nabi

Di susul air Zamzam, lalu air bengawan Kautsar

Kemudian sungai Nil Mesir dan selanjutnya bengawan-bengawan yang lain”

Mukadimah Ceramah Islam Air Dalam Islam# Pembagian air di tinjau dari hukumnya

Pertama : Air suci dan mensucikan.

Air ini disebut dengan air Thahur dan Mutlak. Yang dimaksud mutlak adalah air yang tidak disertai dengan nama sama sekali menurut ahli Urf dan lisan yang telah mengetahui keadaan air tersebut, sehingga cukup menyebutnya dengan air saja tanpa disertai nama lain. Begitu pula air yang disertai nama yang tidak mengikat, akan tetapi nama itu akan hilang dengan berpindahnya air dari satu tempat ke tempat yang lain. Seperti air sumur dan air laut. Maka hukum air ini sah untuk digunakan bersuci.

Berbeda dengan air yang memiliki nama yang mengikat, seperti air mawar, kopi dan anggur, maka tidak dapat disebut air Mutlak dan tidak sah jika digunakan bersuci.

# Air mutlak ditinjau dari hukum makruh dan tidaknya terbagi menjadi dua :

  1. Tidak makruh memakainya.
  2. Makruh digunakan. Dan yang kedua ini terbagi menjadi empat :
  3. Air Musyammas. Dihukumi makruh karena khawatir menyebabkan penyakit belang  (البرص)
  4. Air yang terlalu panas, karena dapat mencegah untuk menyempurnakan bersuci sebab terlalu panas.
  5. Air yang terlalu dingin, sebagaimana alasan air yang terlalu panas.
  6. Air dari hasil ghasab.

Air Musyamas hukumnya makruh di gunakan jika memenuhi Sembilan syarat. Jika salah satu saja tidak terpenuhi maka hukum makruhnya menjadi hilang. Sembilan syarat ini terkumpul dalam ungkapan nadzom sebagian ulama’ :

“sesungguhnya ulama’ menghukumi makruh air musyamas

ketika masih panas bagi orang hidup, dengan hukum yang telah di tetapkan”

“jika air tersebut berada di wadah yang terbuat dari logam selain emas dan perak

Dan digunakan di waktu panas tidak di waktu dingin”

“Digunakan di badan, dan di daerah panas,

Masih ada air yang lain dan tidak khawatir terjadi bahaya”

  1. Panas air disebabkan terik matahari.
  2. Digunakan saat  masih panas.
  3. Digunakan oleh orang hidup.
  4. Air berada di wadah yang terbuat dari logam, seperti besi, tembaga, timah dan lainnya kecuali emas dan perak.
  5. Digunakan di waktu panas / kemarau.
  6. Digunakan di badan, bukan yang lain seperti baju.
  7. Digunakan di daerah yang panas seperti Hijaz dan Hadlramaut.
  8. Masih bisa menggunakan air yang lain.
  9. Tidak ada dugaan kuat akan terjadi bahaya (الألم). Jika ada dugaan kuat, maka hukum bersuci menggunakan air musyamas adalah haram.

Alasan hukum makruhnya air musyamas adalah karat yang keluar dari wadah air musyamas tersebut bisa menyebabkan penyakit belang. Namun imam Nawawi lebih memilih hukum menggunakan air musyammas tidaklah makruh, sebab dalil yang mendasari hukum makruh ini berstatus lemah. Pendapat ini sebagaimana yang diungkapkan penyusun nadzom Shofwatuz Zubad :

“……………dan di pilih di dalam air musyammas hukum tidak makruh”

Kedua : Air Suci Namun Tidak Mensucikan.

Termasuk golongan air ini adalah air musta’mal. Yang dimaksud air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk kefardluan dalam bersuci. Syarat air musta’mal ada empat :

  1. Kurang dari dua Qullah.
  2. Telah digunakan untuk membasuh bagian fardlu, yaitu basuhan yang menghilangkan hadats atau najis.
  3. Sudah terpisah dari tempat yang terbasuh. Sehingga air yang belum terpisah dari tempat yang terbasuh tidak dapat disebut air musta’mal.
  4. Tidak bertujuan untuk menciduk saat air tersentuh dengan anggota badan yang hendak dibasuh. Jika di sertai tujuan menciduk, maka air yang tersisa tidak dapat disebut musta’mal. Yang dimaksud dengan tujuan menciduk yaitu setelah pembasuhan wajah dan sebelum memasukkan tangan ke wadah air yang kurang dari dua Qullah, orang yang wudlu’ berniat untuk mengambil sebagian air guna membasuh tangan di luar wadah tersebut. Namun mengenai hukum niat menciduk dalam permasalahan ini masih diperselisihkan, apakah harus niat agar air tidak menjadi musta’mal ataukah tidak harus niat.
  • Hukum air mutlak yang berubah dengan perkara lain.

Hukum air ini sebagaimana hukum air musta’mal, yaitu suci dan tidak dapat digunakan untuk bersuci dengan beberapa syarat. Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, maka hukumnya sah bersuci dengan air ini. Syarat-syaratnya sebagai berikut :

  1. Perubahan air disebabkan perkara suci. Jika disebabkan perkara najis, maka hukumnya menjadi najis.
  2. Perubahannya disebabkan perkara yang mencampuri (المخالط), seperti kopi. Jika disebabkan perkara yang menyandinggi (المجاور) seperti kayu, maka tidak dapat mempengaruhi kemutlakan air, sehingga hukumnya sah bersuci menggunakan air tersebut.

Batasan المخالط  adalah perkara yang tidak dapat dipisahkan dari air ketika sudah tercampur, atau perkara yang tidak dapat dibedakan dari air dengan pandangan mata secara urf. Batasan المجاور adalah perkara yang mungkin untuk dipisahkan dari air walaupun sudah masuk di air, atau bisa dibedakan dengan pandangan mata.

  1. Perubahan yang terjadi sangat banyak (فاحش), sekira nama kemutlakan air menjadi hilang. Seperti air perasan, kua dan teh. Hukum bersuci dengan air yang demikian adalah tidak sah. Jika perubahan yang terjadi tidak terlalu banyak, maka tidak berpengaruh pada kemutlakan air.
  2. Perkara yang mencampuri mudah terhindar dari air. Berbeda dengan perkara yang sulit terhindar seperti lumut, maka hukum bersuci dengan air tersebut adalah sah.
  • Contoh-contoh air yang berubah
  1. Perubahan yang terjadi sebab kayu atau minyak tidak dapat berpengaruh pada kemutlakan air. Karena kayu atau minyak termasuk mujawwir, walaupun perubahan yang terjadi sangat banyak dan dapat terhindar dari air.
  2. Perubahan yang disebabkan perasan anggur, ja’faran, celak dan Asynan. Perubahan ini mempengaruhi kemutlakan air, karena barang-barang ini termasuk mukholid  jika memang syarat-syarat yang lain terpenuhi.
  3. Perubahan air disebabkan terlalu lama diam atau di sebabkan tanah. Perubahan ini tidak berpengaruh, begitu pula perubahan yang disebabkan barang-barang yang terdapat di tempat air atau di tempat alirannya. Perubahan sebab garam air, dan dedaunan yang rontok dan masuk ke air dengan sendirinya (bukan karena perbuatan). Semua perkara ini tidak berpengaruh karena memang sulit dihindari air, sehingga tetap sah digunakan bersuci walaupun telah menghilangkan status nama air.

Penyusun Shofwatu Az Zubad berkata :

Jual Kain Tenun

“ bersuci hanya bisa sah dengan menggunakan air

Mutlak, tidak dengan air musta’mal dan tidak dengan air

Yang berubah dengan perkara suci yang Mukholith

Dengan perubahan yang merubah kemutlakan air

Di dalam rasa, bau dan warnanya

Dan mungkin air bisa di hindarkan dari perkara tersebut

Dan kecualikanlah perubahan sebab kayu padat

Atau dedaunan atau lumut atau debu”

Ketiga : air najis atau mutanajis, yaitu air yang dihukumi najis karena kemasukan najis.

-       Keadaan-keadaan air yang terkena najis.

  1. Ketika air kurang dari dua Qullah, maka menjadi najis secara  mutlak dengan hanya tersentuh najis walaupun tidak sampai berubah.
  2. Air yang banyak, dua Qullah atau lebih, maka tidak dihukumi najis ketika terkena najis, kecuali terjadi perubahan, baik bau, rasa atau warna, walaupun perubahannya hanya sedikit.

Dua Qullah secara bahasa adalah dua aliran yang besar. Sedangkan secara syara’ adalah air yang kadar ukurannya mencapai lima ratus Rithl negara Iraq atau lima ratus enam puluh lima Rithl negara Tarim. Dan ukuran sekarang adalah dua ratus tujuh belas liter yang seukuran dengan sepuluh ceret sebagaimana yang di ungkapkan sebagian ulama’ :

“ dua Qullah adalah air sebanyak sepuluh ceret

Sebagaimana yang telah terbukti tanpa ada keraguan”

Permasalahan-permasalahan yang terkait dengan air mutanajis.

  1. Ketika ada air banyak terkena najis, akan tetapi kita ragu apakah terjadi perubahan ataukah tidak, maka apakah masih diperkenankan bersuci dengan air tersebut?

Jawaban : diperkenankan dan hukumnya sah bersuci dengan air tersebut, karena sesungguhnya hukum asal air tersebut adalah suci.

  1. Ketika ada air banyak terkena najis dan mengalami perubahan, namun kita masih ragu apakah perubahan itu disebabkan perkara suci atau najis, maka bagaimanakah hukumnya?

Jawaban : air tersebut masih suci, karena sesunggunya hukum asal air adalah suci.

  1. Ketika air banyak yang telah berubah disebabkan perkara najis, kemudian selang beberapa lama kita ragu apakah perubahannya sudah hilang ataukah belum, maka bagaimanakah hukumnya ???

Jawaban : kita menghukumi air tersebut najis, karena kita telah memastikan air tersebut sebelumnya adalah najis (dan masih ragu apakah hukum najis itu telah hilang).

Najis-najis yang di ma’fu ketika mengenai air.

Najis yang dima’fu saat mengenai air atau cairan selain air adalah najis yang tidak terlihat oleh mata normal dan bangkai binatang yang tidak mengalir darahnya, yaitu binatang yang ketika anggota badannya disobek, maka darahnya tidak mengalir, seperti lalat. Bangkai ini hukumnya ma’fu dengan dua syarat :

  1. Mengenai air bukan Karena perbuatan seseorang.
  2. Bangkai tersebut tidak sampai merubah sifat-sifat air.

Hal ini sebagaimana yang diungkapkan penyusun nadzom Shofwah Az Zubad :

“dan kecualikanlah bangkai binatang yang tidak mengalir darahnya

Atau najis yang tidak bisa terlihat oleh mata normal”

Cara-cara mensucikan air yang terkena najis.

Air yang terkena najis dapat menjadi suci dengan tiga cara :

  1. Suci dengan sendirinya. Yaitu perubahan yang disebabkan najis yang mengenainya telah hilang. Hal ini jika memang ukuran air mencapai dua Qullah atau lebih.
  2. Suci dengan ditambahkan air lagi hingga mencapai dua qullah atau lebih. Cara ini disebut dengan Mukatsarah (المكاثرة). Dan tidak bisa suci jika yang digunakan memperbanyak berupa perkara najis, seperti air kencing.
  3. Suci dengan mengurangi ukuran air, dengan syarat air yang tersisa tidak kurang dari dua qullah.

Penyusun nadzom Shofwah Az Zubad :

“ jika perubahan air sebab najis telah hilang dengan sendirinya

Dan dengan di tambahkan air, tidak dengan sesamanya ja’faran, maka hukum air tersebut telah suci”

Permasalahan-permasalahan yang terkait dengan air

  1. Bagaimanakah contoh air yang digunakan mandi wajib atau wudlu’ wajib namun tidak sampai musta’mal???

Jawaban : ketika nadzar melakukan mandi sunnah, seperti mandi Jum’at. Atau nadzar mengulangi wudlu’ sebelum batal. Maka keduanya hukumnya wajib, namun air yang digunakan tidak menjadi musta’mal, karena keduanya tidak menghilangkan hadats, sedangkan hukum wajib keduanya baru datang bukan aslinya, sedangkan yang dipertimbangkan adalah yang aslinya memang wajib.

  1. Ketika ada beberapa air mutanajis yang berada di beberapa wadah yang berbeda, kemudian kita kumpulkan di dalam satu wadah, maka bagaimanakah hukumnya ?

Jawaban : jika yang terkumpul mencapai dua qullah dan tidak ada perubahan pada sifat-sifatnya, maka hukumnya suci dan mensucikan, walaupun setelahnya dipisah-pisahkan kembali. Jika tidak memenuhi kriteria di atas, maka hukumnya tidak suci.

  1. Bagaimanakah contoh air yang mencapai ratusan qullah akan tetapi hukumnya najis, padahal tidak ada perubahan sama sekali pada sifat-sifatnya???

Contohnya adalah air mengalir di tempat aliran yang terdapat najis yang terhenti dan ukuran setiap alirannya kurang dari dua qullah. Maka semua aliran air ini adalah najis walaupun tidak berubah selama masih berada di tempat alirannya, walaupun mencapai ratusan atau ribuan qullah. Jika telah terkumpul dalam satu tempat dan ukurannya mencapai dua qullah, maka kita hukumi suci dan mensucikan.

  1. Bagaimanakah contoh dua air yang sah digunakan bersuci jika sendiri-sendiri, dan tidak sah jika dikumpulkan jadi satu?

Contohnya adalah ketika ada air berubah di sebabkan perkara di tempatnya atau di tempat alirannya seperti lumut, lalu di campurkan ke air yang tidak mengalami perubahan, kemudian berubah sebab percampuran ini hingga menghilangkan kemutlakan air, maka hukumnya tidak sah bersuci dengan air ini karena perubahan yang terjadi disebabkan oleh sesuatu yang mudah dihindari air.

“ Ditulis oleh al Habib al Alamah Zain ibn Ibrahim ibn Sumith, semoga Allah memberi perlindungan pada beliau

Demikian artikel yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan bermanfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca Artikel Kami Lainnya >>> Ceramah Agama Islam “Dua Tujuan Manusia Diciptakan”

toko buku islam murah
FacebookTwitterGoogle+