Tag Archives: materi ceramah agama islam

Konsep Ceramah Agama Islam “Bab Istinja’”

Sirah Nabi Muhammad saw

Konsep Ceramah Agama Islam “Bab Istinja’”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pengertian istinja’

Secara bahasa, istinja’ adalah meminta untuk memutus sesuatu yang meyakitkan. Secara syara’ adalah menghilangkan najis yang membekas di farji yang keluar dari farji dengan air atau batu.

Penjelasan definisi

Ungkapan, “dari farji” yang berhubungan dengan ungkapan, “najis yang keluar” itu mengecualikan najis yang keluar dari mulut, seperti muntahan, maka menghilangkan najis tersebut tidak disebut istinja’.

Konsep Ceramah Agama Islam Bab Istinja’            Ungkapan, “dari farji” yang berhubungan dengan ungkapan, “menghilangkan” itu mengecualikan ketika najis berada di selain farji, maka untuk menghilangkannya harus dengan air tidak cukup dengan batu.

 

# Hukum Istinja’ Ada Lima :

  1. Wajib, jika najis yang keluar membekas.
  2. Sunnah, jika najis yang keluar tidak membekas, seperti tanji kering atau ulat (دودة)
  3. Mubah, yaitu istinja’ dari keringat.
  4. Makruh yaitu istinja’ dari kentut.
  5. Haram dan sah, yaitu istinja’ dengan barang ghasab. Haram dan tidak sah, yaitu istinja’ dengan barang yang dimuliakan seperti buah-buahan.

# Tata Cara Istinja’ Ada Tiga :

  1. Menggunakan air dan batu sekaligus. Ini adalah cara yang paling utama, karena batu dapat menghilangkan jisim najisnya, sedangkan air menghilangkan sisa-sisa / bekasnya.
  2. Hanya menggunakan air. Cara ini derajatnya di bawah cara pertama.
  3. Hanya menggunakan batu dan hukumnya jaiz walaupun ada air dengan syarat-syarat yang akan di jelaskan.

# Batasan Benda Yang Sah di Gunakana Istinja’

Adalah Benda Yang Memiliki Empat Syarat :

  1. Suci, tidak najis atau terkena najis.
  2. Padat. Maka tidak cukup dengan menggunakan barang cair seperti air mawar.
  3. Dapat menghilangkan najis. Maka tidak cukup dengan menggunakan kaca.
  4. Tidak dimuliakan oleh sariat (المحترم). Maka tidak cukup dengan menggunakan tulang dan seluruh makanan anak Adam, termasuk juga lembaran yang terdapat tulisan mulia (المحترم) seperti ilmu.

Syarat-Syarat di Anggap Cukup

Menggunakan Sesamanya Batu Ada Delapan.

Ketika semuanya terpenuhi maka di anggap cukup menggunakan batu saja tanpa harus di sertai air.

  1. Melakukan tiga kali usapan. Tidak disyaratkan batunya lebih dari satu, bahkan dianggap cukup satu batu yang memiliki tiga tepi.
  2. Mengusap tempat najisnya hingga bersih, yaitu dubur, hasyafah dan bagian luar vagina sekira sudah tidak tersisa kecuali bekas-bekas yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan air. Maka harus melakukan dua hal :
  1. Membersihkan najis.
  2. Dengan tiga usapan

Jika sudah mengusap tiga kali namun belum bersih, maka wajib menambahi hingga bersih. Jika tempat najis sudah bersih dengan sekali usapan atau dua kali, maka wajib menambah hingga tiga usapan. Sebagaimana yang diungkapkan penyusun Ahofwatul Zubad “:

“najisnya farji itu mewajibkan istinja’

Dan sunnah menggunakan batu kemudian menggunakan air

Di anggap cukup dengan air atau tiga batu

Yang bisa membersihkan ainiyah najis, dan sunnah di ganjili

Walaupun dengan tiga tepi batu yang bisa hasil

Dengan setiap usapan pada seluruh tempat najis”

  1. Najisnya belum kering, seluruh atau sebagiannya, sekira tidak bisa dihilangkan dengan batu.
  2. Najisnya tidak berpindah dari tempat yang terkena saat keluar.
  3. Najis yang keluar tidak terkena benda lain, seperti air, debu atau najis yang lain. Menurut imam Romli, jika benda yang mengenai kering, maka tidak apa-apa.
  4. Najis yang keluar tidak melampaui lipatan-lipatan dubur dan hasyafah yang masih bersambung dengan yang belum melampaui keduanya. Maka wajib menggunakan air pada najis yang melampaui batas tersebut tidak pada najis yang tidak melampauinya.
  5. Meratakan usapan batu pada seluruh tempat yang terkena najis.
  6. Batu yang digunakan harus suci.

# Kesunahan-kesunahan di dalam istinja’

Jumlahnya cukup banyak, di antaranya  adalah :

  1. Mempersiapkan air atau batu sebelum istinja’.
  2. Istinja’ dengan hitungan ganjil.
  3. Istinja’ dengan tangan kiri.
  4. Menggunakan jari tengah saat istinja’ pada dubur dengan menggunakan air.
  5. Memposisikan farjinya diantara dua jari, jari telunjuk dan jari tengah.
  6. Lebih mendahulukan air untuk mensucikan jalan depan, supaya tangan tidak terkena najis saat membersihkan dubur.
  7. Melakukan istinja’ sebelum wudlu’.
  8. Menggosok tangan dengan tanah kemudian membasuhnya.
  9. Memercikan air pada farji dan sarungnya.
  10. Membaca doa yang di riwayatkan dari Nabi Saw setelah istinja’, yaitu :

اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِيْ مِنَ النِّفَاقِ وَحَصِّنْ فَرْجِيْ مِنَ الْفَوَاحِشِ

Jual Kain Tenun

“ ya Allah, bersihkanlah hatiku dari sifat munafiq, dan lindungilah kemaluanku dari perkara-perkara yang sangat tercela”

Etika Saat Buang Hajat di Tempat

Yang Telah Tersedia :

  1. Memakai sandal.
  2. Menutup kepala.
  3. Membaca do’a sebelum masuk jamban, jamban :

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ وَمِنَ الرِّجْسِ النَّجِسِ

“dengan menyebut Nama Allah, Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan, dan dari kotoran yang najis”

  1. Mendahulukan kaki kiri ketika masuk.
  2. Mendahulukan kaki kanan ketika keluar.
  3. Tidak membawa sesuatu yang memuat dzikiran kepada Allah atau sesuatu yang dimuliakan seperti nama nabi, termasuk juga kitab-kitab ilmiah dan nama-nama ulama’. Jika lupa terbawa ke dalam jamban dan memungkinkan untuk keluar, maka sunnah untuk keluar terlebih dahulu. Akan tetapi jika tidak memungkinkan keluar, maka sunnah untuk digenggam atau ditutup dengan sesuatu, semisal dimasukkan kelengan baju.
  4. Melakukan buang hajat dengan posisi duduk.
  5. Tidak berbicara saat buang hajat.
  6. Tidak melihat ke arah atas, ke farji atau ke najis yang keluar, akan tetapi memandang ke depan.
  7. Bertumpuh pada kaki kiri, sedangkan kaki kanan di luruskan / ditegakkan.
  8. Tidak meludah.
  9. Tidak bermain-main dengan tangan.
  10. Tidak membuka baju kecuali telah dekat dengan tempat buang hajat, barulah kemudian dibuka sedikit demi sedikit.
  11. Setelah selesai buang hajat, maka memakai pakaian sedikit demi sedikit sebelum berdiri tegak.
  12. Al istibra (الاستبراء), yaitu berusaha membersihkan / mengeluarkan sisa-sisa air kencing yang masih berada di penis. Ada beberapa cara dalam istibra, diantaranya :
  13. Berdehem.
  14. Menjalankan jari tangan kiri (telunjuk) pada penis bagian bawah.
  15. Menggerak-gerakkan penis tiga kali.
  16. membaca doa keluar jamban, yaitu :

غُفْرَانَكَ ثَلَاثَةَ مَرَّةٍ, الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَذْهَبَ عَنِّيَ الْأَذَى وَعَافَانِيْ, الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَذَاقَنِيْ لَذَّتَهُ وَأَبْقَى فِيْ قُوَّتِهِ وَأَذْهَبَ عَنِّيْ أَذَاهُ

“ aku memohon ampunanmu, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dari diriku, dan memberi kesembuhan padaku. Segala puji bagi Allah yang telah mencicipkan kelezatannya padaku, menetapkan kekuatannya dalam diriku, dan menghilangkan peyakit dri diriku”

# Etika Saat Buang Hajat di Tempat Yang

Tersedia Untuk Buang Hajat

Saat buang hajat di tempat seperti ini, maka ada penambahan pada etika yang telah di jelaskan di atas, yaitu :

  1. Ketika menghadap kiblat, maka wajib menggunakan penghalang antara dia dan kiblat. Batasan penghalang yang mencukupi adalah jaraknya dari satir tidak melebihi tiga dziro’ (satu setengah meter), dan tinggi satir tidak kurang dari dua sepertiga dziro’ (sepertiga meter).
  2. Agak menjauh dari keramaian, sekira kentutnya tidak terdengar orang lain, begitu pula bau kotorannya tidak tercium orang lain.
  3. Tidak kencing di air yang diam tidak mengalir jika airnya tidak banyak sekali, karena ada larangan akan hal itu. Ukuran air yang banyak sekali adalah air yang jika di gerakkan sebagian tepinya maka tepian yang lain tidak ikut bergerak.
  4. Tidak kencing di air sedikit yang mengalir.
  5. Tidak kencing di jalan yang di lewati orang.
  6. Tidak kencing di tempat yang berlawanan dengan arah tiupan angin, agar tidak terkena percikannya.
  7. Tidak kencing di tsuqbah (الثقبة) dan as sarab (السرب). Tsuqbah adalah lubang di tanah, sedangkan Sarab adalah celah-celah di tanah.
  8. Tidak kencing di tempat yang biasa digunakan banyak orang untuk berkumpul. Baik di tempat teduh saat musim panas, atau di tempat terik saat musim dingin.
  9. Tidak kencing di bawah pohon yang berbuah, jika memang ada dugaan bahwa najis tersebut tidak hilang dengan guyuran hujan atau banjir.
  10. Sunnah tidak menghadap matahari atau rembulan. Sedangkan hukum membelakangi keduanya tidaklah makruh.
  11. Tidak kencing di tempat yang keras, agar tidak terkena percikan najis.
  12. Tidak istinja’ di tempat yang digunakan buang hajat.
  13. Wajib tidak menhadap dan membalakangi kiblat, jika memang tidak terdapat satir yang memenuhi persyaratan. Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“saat buang hajat di dalam bangunan  hukumnya sunnah tidak menghadap kiblat

Atau membelakanginya, dan ulama’ mengharamkan keduanya saat buang hajat di luar bangunan”

“ Ditulis oleh al Habib al Alamah Zain ibn Ibrahim ibn Sumith, semoga Allah memberi perlindungan pada beliau

Demikian artikel yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan bermanfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca Artikel Kami Lainnya >>> Mengamalkan Hadist “Cara Cerdas Berinteraksi dan Bergaul dengan Manusia”

toko buku islam murah
FacebookTwitterGoogle+