Tag Archives: keutamaan wanita hamil dalam islam

Ceramah Agama Yusuf Mansur “Masa HAMIL Dalam Islam”

Sirah Nabi Muhammad saw

Ceramah Agama Yusuf Mansur “Masa HAMIL Dalam Islam”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Minimal masa hamil adalah 6 bulan. Biasanya adalah 9 bulan. Dan yang maksimal adalah 4 tahun. Sebagaimana yang diungakapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“ kemudian minimal hamil adalah enam  bulan

Dan empat tahun adalah maksimal hamil

Sepertiga tahun adalah batasan berbentuknya bayi

Dan biasanya hamil itu sembilan bulan”

Ceramah Agama Yusuf Mansur Masa HAMIL Dalam IslamISTIHADLAH

Istihadlah adalah darah yang keluar melebihi masa maksimal haidl dan maksimal nifas, atau darah yang keluar di selain hari-hari keluarnya haidl dan nifas. Sebagaimana yang diungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“ jika darah melewati masa maksimal (haidl dan nifas) dan terus menerus

Maka disebut mustahadlah yang memiliki beberapa pembagian”

  • Bentuk-Bentuk Wanita Mustahadlah Ada Tujuh :

Bentuk pertama : Mubtadi’ah Mumayyizah.

Yang dimaksud mubatadi’ah adalah wanita yang pertama kali mengeluarkan darah dan belum pernah mengalami haidl sebelumnya. Dan yang dimaksud mumayyizah adalah wanita yang mengeluarkan darah dalam dua sifat, sifat kuat dan sifat lemah seperti merah dan hitam.

Hukum mubtadi’ah mumayyizah adalah darah kuat dihukumi haidl dan yang lemah dihukumi istihadlah.

Contohnya : Ada seorang wanita berkata, “ aku mengeluarkan darah pertama kali selama 20 hari secara terus menerus, tiga hari berupa darah hitam (kuat) dan 17 hari berupa darah merah (lemah)”.

Maka kita hukumi wanita tersebut adalah mengalami haidl selama tiga hari dan istihadlah selama 17 hari.

-       Syarat Mumayizah Ada 4 :

  1. Darah kuat tidak kurang dari minimal masa haidl, yaitu sehari semalam.
  2. Darah kuat tidak lebih dari maksimal masa haidl, yaitu 15 hari 15 malam.
  3. Darah lemah tidak kurang dari minimal masa suci yaitu 15 hari 15 malam.
  4. Darah lemah keluar secara terus menerus / bersambung.

Bentuk kedua : Mubtadi’ah Ghairu Mumayyizah.

Yaitu wanita yang mengeluarkan darah dalam satu sifat, semisal semuanya berwarna merah, begitu juga wanita yang tidak memenuhi  syarat – syarat mumayyizah.

Hukum wanita ini adalah sehari semalam adalah haidl dan 29 hari adalah suci. Hal ini jika mengetahui mulainya keluar darah. Jika tidak tahu, maka di hukumi mutahayyirah dan akan dijelaskan di belakang.

Bentuk ketiga : Mu’tadah Mumayyizah.

Yaitu wanita yang mengalami istihadlah dan sebelumnya sudah pernah mengalami haidl dan suci.

Hukumnya : Yang dibuat pedoman adalah perbedaan sifat darah (sebagaimana mubtadi’ah mumayyizah ) walaupun berbeda dengan kebiasan haidl dan suci yang pernah di alami.

Contoh : Wanita berkata, “pada bulan sebelum akhir dia mengalami haidl selama 5 hari dari awal bulan dan sisanya dalam keadaan suci. Pada bulan terakhir dia mengeluarkan darah selama 25 hari, 10 hari berwarna hitam dan 15 hari berwarna merah”.

Maka kita hukumi bahwa wanita tersebut mengalami haidl selama 10 hari pertama. Karena perbedaan sifat itu sangat nampak sehingga statusnya lebih kuat daripada berpedoman pada kebiasaan yang pernah dia alami. Dan juga karena perbedaan sifat itu adalah tanda pada darah, sedangkan kebiasaan hanya tanda pada yang mengalaminya.

Bentuk ke empat : Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakirah Li Adatiha Qadran Wa Waktan (yang ingat akan kebiasaan masa haidlnya, baik mulai keluar dan lamanya).

Hukumnya dikembalikan pada kebiasaannya mulai dan lamanya, yaitu kita menghukumi sesuai kebiasaan yang telah dia alami. Kebiasaan yang dibuat pedoman adalah yang dia alami terakhir.

Jual Kain Tenun

Contoh : Seorang wanita berkata bahwa dia mengalami haidl di bulan sebelum bulan yang terakhir (bulan saat mengalami istihadlah) selama tujuh hari, kemudian di bulan terakhir darah keluar selama tujuh belas hari dan tidak bisa di bedakan warna darahnya yaitu dalam satu sifat saja.

Maka kita hukumi wanita tersebut mengalami haidl selama tujuh hari disesuaikan dengan bulan sebelumnya, karena itulah kebiasaannya yang terakhir yang dibuat sebagai pedoman. Sedangkan 10 hari sisanya adalah darah istihadlah.

Bentuk kelima : Mu’tadah Ghairu Mumayizah  Nasiyah Li Adatiha Qadran Wa Waktan (yang lupa akan kebiasaan haidl dan sucinya, baik mulai dan lamanya (mutahayyirah).

Contoh : Seorang wanita mengeluarkan darah selama 20 hari dengan satu sifat dan dia lupa kebiasaan haidlnya, apakah awal, tengah, atau akhir bulan??!

Maka wanita tersebut hukumnya seperti wanita haidl dalam hal keharaman berhubungan badan diantara pusar dan lutut, haram membaca al Qur’an di luar sholat, haram memegang dan membaca Mushaf, berdiam diri di masjid dan lewat di dalamnya jika khawatir menajiskan. Dan hukumnya seperti wanita suci dalam hal sholat, puasa, thowaf, cerai, dan I’tikaf. Dan wajib melakukan mandi setiap hendak melakukan fardlu.

Bentuk ke enam : Mu’tadah Goiru Mumayyizah Dzakirah Li Adatiha Qadran La Waktan (yang ingat akan kebiasaan lama haidlnya namun lupa mulai dan batas akhirnya).

Contoh : Seorang wanita berkata, “dalam sebulan haidlku selama lima hari di sepuluh hari pertama, namun aku tidak ingat permulaannya, tapi ingat pasti bahwa hari pertama suci. Pada bulan terakhir aku mengeluarkan darah sebulan penuh.”

Maka hukum wanita tersebut adalah hari ke enam haidl secara yaqin, hari pertama suci secara yaqin sebagaimana 20 hari yang tersisa. Hari kedua sampai kelima mungkin haidl mungkin suci, begitu juga hari ketujuh sampai ke sepuluh. Sehingga masa yang mungkin haid dan suci hukumnya seperti mutahayirah yang telah dijelaskan.

Bentuk ke tujuh : Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakirah Waktan La Qadran  (yang ingat akan kebiasaan mulai haidlnya, namun lupa berapa lama masanya).

Contoh : Seorang wanita berkata “haidlku terjadi di awal bulan, namun aku lupa berapa lamanya. Dan di bulan yang terakhir aku mengeluarkan darah sebulan penuh.”.

Hukum wanita ini adalah hari pertama dihukumi haidl secara pasti begitu juga separuh bulan yang kedua, sedangkan diantara keduanya (hari kedua hingga hari kelima belas) mungkin haidl mungkin suci. Dan masing-masing memiliki hukumnya sendiri-sendiri.

Adapun wanita yang mengalami istihadlah nifas, maka hukumnya seperti wanita haidl yang mengalami istihadlah.

  • Hukum-Hukum Yang Umum Bagi

Wanita Mustahadlah

Wanita mustahadlah berbeda dengan wanita yang haidl dan nifas. Yaitu, bagi mustahadlah wajib untuk melaksanankan sholat, dan sholatnya di hukumi sah dan tidak wajib di qodlo’. Ketika masuk bulan Romadlon, maka dia harus berpuasa. Dan bagi suami diperkenankan menjima’ istrinya yang mengalami istihadlah walaupun saat darah mengalir.

  • Langkah-Langkah Yang Harus di Lakukan Wanita Mustahadlah Ketika Hendak Melaksanakan Sholat :
  1. Wajib bersuci dari najis baik darah atau yang lainnya.
  2. Wajib menyumbat tempat keluarnya darah dengan kapas atau sesamanya kecuali terasa sakit atau dalam keadaan puasa, karena penyumbatan tersebut dapat membatalkan puasa. Jika disumbat saja tidak bisa, maka harus diikat juga.
  3. Setelah itu wajib segera melaksanakan wudlu’. Wudlu’ harus dilakukan setelah masuknya waktu sholat dan dilakukan dengan terus menerus ( الموالاة)
  4. Setelah itu wajib segera melaksanakan sholat, tidak boleh ditunda-tunda kecuali ketika ada kemaslahatan sholat seperti menjawab adzan, sholat sunnah qabliyah dan menanti jama’ah.

“ Ditulis oleh al Habib al Alamah Zain ibn Ibrahim ibn Sumith, semoga Allah memberi perlindungan pada beliau

Demikian artikel yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan bermanfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca Artikel Kami Lainnya >>> Mengamalkan Hadist “Cara Cerdas Berinteraksi dan Bergaul dengan Manusia”

toko buku islam murah
FacebookTwitterGoogle+