Tag Archives: contoh pidato tentang agama islam

Konsep Pidato Agama Islam “MENJAMA’ DUA SHOLAT”

Sirah Nabi Muhammad saw

Konsep Pidato Agama Islam “MENJAMA’ DUA SHOLAT”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sebab-sebab di perkenankan menjama’ sholat ada tiga :

  1. Sebab bepergian, baik jama’ taqdim atau jama’ takhir.
  2. Sebab hujan, yaitu hanya diperkenankan jama’ taqdim.
  3. Sebab sakit, baik jama’ taqdim atau jama’ takhir.

-Permasalahan-Permasalahan Terkait Jama’ :

1. Manakah yang lebih utama, menjama’ atau tidak ??

Konsep Pidato Agama Islam MENJAMA’ DUA SHOLATJawaban : Yang lebih utama adalah tidak menjama’ karena menghindari perselisihan ulama yang tidak memperbolehkan jama’ seperti imam Abu Hanifah, kecuali dalam empat keadaan yang mana hukum menjama’ lebih utama daripada tidak, yaitu :

-       Saat haji di hari Arafah dengan melakukan jama’ taqdim Dhuhur dan Ashar, dan di Muzdalifah dengan melakukan jama’ takhir Maghrib dan Isya’.

-       Bagi orang yang masih meragukan tentang dalil diperkenankan jama’.

-       Bagi orang yang di hatinya tersimpan rasa tidak suka melakukan jama’.

-       Jika dia merupakan tokoh dan melaksanakan jama’ di depan banyak orang.

2. Jika menjadi musafir, maka yang lebih utama apakah melakukan jama’ taqdim atau jama’ takhir???

Jawaban : Terdapat perincian dalam hal ini :

-       Jika di waktu yang pertama melakukan perjalanan dan berhenti di waktu yang kedua, maka ulama’ sepakat bahwa yang lebih utama adalah jama’ takhir.

-       Jika berhenti di waktu yang awal dan berjalan di waktu kedua, maka terjadi perbedaan pendapat. Menurut imam Ibn Hajar, yang lebih utama adalah jama’ taqdim, karena segera terbebas dari tanggungan. Sedangkan menurut imam Romli, yang lebih utama adalah jama’ takhir, karena waktu sholat kedua itu juga merupakan waktu bagi sholat yang pertama.

-       Syarat Jama’ Taqdim Ada Tujuh :

  1. Memulai jama’ dengan sholat yang pertama, yaitu tertib dengan melakukan sholat Dhuhur atau Maghrib dulu.
  2. Niat jama’ saat sholat yang pertama, yaitu niat jama’ taqdim saat melaksanakan sholat yang pertama walaupun saat salam. Sehingga niat boleh dilakukan di tengah-tengah sholat yang pertama, tidak disyaratkan harus di lakukan saat takbirotul ihram saja, namun yang afdol dilakukan saat takbirotul ihram.
  3. Waktu sholat yang pertama belum habis. Maksudnya tidak diperkenankan melaksanakan jama’ taqdim kecuali kedua sholat yang dijama’ bisa dilaksanakan sebelum waktu sholat yang pertama habis.
  4. Terus menerus diantara kedua sholat, yaitu tidak ada pemisah yang lama / panjang secara Urf di antara keduanya. Jika terpisah agak lama secara urf, maka tidak diperkenankan jama’ taqdim. Sebagian ulama’ memperkirakan pemisah yang lama dengan masa yang cukup untuk melaksanakan dua rokaat yang minimal.
  5. Mempunyai dugaan bahwa sholat pertama telah sah. Maka tidak diperkenankan jama’ taqdim jika sholat yang pertama tidak sah.
  6. Dalam keadaan udzur (bepergian) hingga selesai melaksanakan takbirotul ihram sholat yang kedua. Maksudnya dia masih berstatus musafir hingga sempurna melaksanakan takbirrotul ihram sholat yang kedua. Jika perjalanannya selesai / terputus sebelum itu, maka tidak boleh menjama’, bahkan harus melaksanakan sholat kedua pada waktunya sendiri.
  7. Mengetahui bahwa diperkenankan menjama’ dengan memenuhi semua syarat-syaratnya, yaitu perjalanannya menempuh jarak jauh dan hukumnya tidak haram, serta sudah keluar dari desa dengan melewati batas desa atau keramaian.

Sebagaimana ungkapan penyusun Shofwatul Zubad :

“ syarat jama’ taqdim adalah niat di sholat yang pertama

Tertib, terus menerus walaupun dengan melakukan tayamum”

  • Permasalah-Permasalahan Terkait Jama’ Taqdim :

1. Ketika takbir sholat yang pertama belum berstatus musafir, kemudian di pertengahan sholat sudah berstatus musafir, apakah boleh baginya menjama’ sholat ?

Jawaban : Boleh menjama’, karena perjalanan atau udzur-udur yang lain tidak disyaratkan harus wujud saat takbir sholat yang pertama, akan tetapi yang disyaratkan adalah udzur-udzur tersebut wujud saat niat jama’. Hal semacam ini tergambar / terjadi pada pengendara perahu, kereta atau sesamanya.

2. Jika niat melaksanakan jama’ taqdim saat sholat yang pertama, kemudian setelah sholat dia berubah niat dan tidak ingin menjama’, maka tidak dipermasalahan dan di perkenankan untuk melaksanakan sholat kedua pada waktunya.

Jual Kain Tenun

3. Jika sudah melakukan jama’ taqdim Dhuhur dan Ashar atau maghrib dan isya’, kemudian dia muqim di pertengahan waktu sholat yang pertama dan sebelum masuk waktu sholat kedua, maka bagi dia tidak wajib mengulangi sholat kedua pada waktunya.

  • Syarat Jama’ Takhir Ada Dua :
  1. Niat jama’ takhir saat waktu sholat yang pertama masih muat untuk digunakan melaksanakan sholat pertama. Maksudnya, masuknya waktu niat jama’ takhir bersamaan dengan masuknya waktu sholat pertama sampai sisa waktu yang cukup digunakan melaksanakan sholat pertama, ini menurut imam Romli. Sedangkan menurut imam Ibn hajar, sampai sisa waktu yang cukup untuk satu rokaat.
  2. Udzur masih wujud hingga selesai melaksanakan sholat kedua. Jika muqim di pertengahan sholat kedua atau sebelumnya, maka sholat kedua statusnya Ada’ sedangkan sholat pertama adalah Qodlo’ namun tidak berdosa dan tidak makruh.
  • Permasalahan-Permasalahan Terkait Jama’ Takhir :
  1. Ketika masuk waktu sholat pertama dan belum melaksanakannya, kemudian bepergian sebelum habisnya waktu, maka baginya diperkenankan melakukan jama’ takhir dengan syarat niat jama’ setelah melewati / keluar dari keramaian (batas desa). Tidak wajib baginya melaksanakan sholat pertama pada waktunya.
  2. Saat waktu sholat pertama dia berstatus musafir dan niat jama’ takhir, kemudian sebelum masuknya waktu sholat kedua dia muqim, maka wajib untuk melaksanakan sholat pertama pada waktunya.

PERBEDAAN DI ANTARA JAMA’ TAQDIM DAN JAMA’ TAKHIR

Jama’ Taqdim

Jama’ Takhir

  1. Waktu niat : Di tengah sholat pertama.
  2. Udzur selalu wujud hingga sempurna takbir sholat kedua.
  3. Terus menerus diantara dua sholat yang di jama’.
  4. Wajib tertib.

 

  1. Mulai masuknya waktu sholat pertama hingga siksa waktu yang cukup untuk melaksanakan sholat pertama.
  2. Udzur selalu wujud hingga selesai melaksanakan sholat kedua.
  3. Tidak harus terus menerus diantara kedua sholat, hanya sunnah saja.
  4. Tidak wajib tertib, hanya sunnah saja.

JAMA’ SEBAB SAKIT

Bagi orang sakit  tidak diperkenankan melakukan jama’ takdim dan jama’ takhir menurut pendapat yang kuat di dalam Madzhab Asy Syafi’i, namun imam Nawawi dan yang lain memilih diperkenankan melakukannya.

  • Batasan Sakit Yang Memperkenankan Jama’ :

Yaitu sakit yang bisa menimbulkan kesulitan yang berat jika harus melaksanakan setiap sholat pada waktunya. Sebagian ulama’ berkata, “Di perkenankan jama’ jika mengalami sakit yang memperkenankan sholat duduk”. Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“dalam permasalahan sakit ada pendapat yang jelas dan kuat

Yang di pilih imam Hamad dan imam Nawawi”

JAMA’ SEBAB HUJAN

Diperkenankan melakukan jama’ sebab hujan dengan lima syarat :

  1. Yang dilakukan adalah jama’ taqdim bukan jama’ takhir.
  2. Turun hujan saat takbir sholat yang pertama, salam hingga melakukan takbir sholat kedua. Selain ketiga waktu ini tidak disyaratkan harus turun hujan.
  3. Dilaksanakan dengan berjamaah.
  4. Dilaksanakan di tempat yang agak jauh dari rumah, baik masjid ataupun bukan.
  5. Merasa kesulitan sebab kehujanan di jalan. Jika menemukan payung, maka tidak diperkenankan melakukan jama’.

Sebagaimana ungkapan penyusun Shofwatul Zubad :

“ sebagaimana diperbolehkan jama’ bagi orang muqim

Sebab hujan tetapi harus jama’ taqdim

Jika turun hujan saat takbir sholat pertama

Salam sholat pertama hingga takbir sholat kedua

Bagi orang yang sholat berjama’ah

Jika datang ke masjid yang jauh dan kesulitan sebab hujan”

“ Ditulis oleh al Habib al Alamah Zain ibn Ibrahim ibn Sumith, semoga Allah memberi perlindungan pada beliau

Demikian artikel yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan bermanfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca Artikel Kami Lainnya >>> Jalan Para Muslim “Jalan Lurus Menuju Surga”

toko buku islam murah
FacebookTwitterGoogle+