Tag Archives: Ceramah Agama Yusuf Mansyur “Macam-macam Najis”

Ceramah Agama Yusuf Mansyur “Macam-macam Najis”

Sirah Nabi Muhammad saw

Ceramah Agama Yusuf Mansyur “Macam-macam Najis”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pengertian Najis

Secara bahasa adalah setiap sesuatu yang menjijikan. Dan ada dua pengertian secara syara’ :

  1. pengertian secara definitif adalah setiap barang menjijikan yang mencegah sahnya sholat ketika tidak ada kemurahan.

Penjelasan definisi :

Dari kata, “mencegah sahnya sholat”  mengecualikan barang-barang menjijikkan yang tidak mencega sahnya sholat seperti ludah dan ingus, maka tidak di sebut najis secara syara’. Dari kata, “ketika tidak ada kemurahan” mengecualikan najis-najis yang dima’fu seperti darah sedikit dan najis yang tidak terlihat mata (karena terlalu sedikit), maka dimurahkan oleh sariat.

  1. pengertian najis ditinjau dari jumlahnya sebagaimana yang diungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“minuman memabukkan, dan babi/celeng

Anjing dan keturunan keduanya, dan sisa-sisa cairan di mulut binatang

Bangkai beserta tulang dan bulu-bulu kasarnya

Dan bulu-bulu halusnya, tidak najis bulu binatang yang halal di makan dan bulu manusia

Darah, muntahan, dan setiap sesuatu yang keluar

Dari dua jalan selain sperma manusia”

Ceramah Agama Yusuf Mansyur Macam-macam Najis- Permasalahan-Permasalahan Terkait

Dengan Bab Najis :

  1. Arak dan badek. Keduanya adalah minuman memabukkan dan hukumnya najis. Perbedaan diantara keduanya secara arti bahasa adalah :

arak adalah minuman yang terbuat dari perasan anggur. Sedangkan nabid / badek adalah minuman yang terbuat dari selain perasan anggur.

  1. Pembagian arak ditinjau dari sisi wajib dibuang dan tidaknya :

-       Arak yang tidak dimuliakan  yaitu arak buatan orang muslim dengan tujuan memang untuk arak. Maka wajib dibuang dan bagi yang membuang tidak wajib mengganti.

-       Arak yang dimuliakan, yaitu arak buatan non muslim secara mutlak atau buatan orang muslim dengan tujuan membuat cukak atau tanpa tujuan apa-apa, maka haram membuangnya, dan bagi yang membuang wajib mengganti.

  1. Perbedaan barang memabukkan yang cair dan yang padat.

-       Yang cair hukumnya haram dikonsumsi, najis dan mencegah sahnya sholat.

-       Yang padat hukumnya haram dikonsumsi, suci dan tidak mencegah sahnya sholat, seperti kecubung dan ganja.

  1. Bangkai, yaitu binatang mati tanpa penyembelihan secara sariat.
  2. Hukum semua binatang ketika masih hidup. Hukum semua binatang ketika masih hidup adalah suci kecuali anjing, babi dan keturunannya.
  3. Hukum binatang mati tanpa disembelih secara sariat :

-       Semua binatang yang mati tanpa di sembelih secara sariat hukumnya najis kecuali belalang dan ikan.

-       Binatang yang halal dimakan hukumnya suci jika disembelih secara sariat.

-       Binatang yang tidak halal d makan hukumnya najis walaupun disembelih.

  1. Hukum bulu binatang:

-       Bulu binatang yang halal dimakan ketika terlepas dari badan hukumnya suci.

-       Bulu binatang yang tidak halal dimakan ketika terlepas dari badan hukumnya najis.

-       Sedangkan bulu yang tidak terlepas dari badan hukumnya sesuai dengan binatangnya.

  1. Hukum anggota yang terlepas dari  binatang yang masih hidup.

Hukumnya seperti hukum bangkainya. Jika bangkainya suci, maka hukum anggota tersebut suci. Dan jika najis, maka hukum anggota tersebut juga najis. Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofwatul Zubad ;

“anggota binatang hidup yang terlepas seperti tangan

Hukumnya seperti hukum bangkai binatang tersebut,

 tidak najis bulunya binatang yang halal dimakan

bulu halus, bulu kasar dan liurnya

keringatnya, minyak misik dan kantong minyak misik.”

  1. Semua jenis darah hukumnya nasjis kecuali sepuluh macam darah yang dihukumi suci. Yaitu 1. hati 2. minyak misik 3. limpah 4. & 5. darah yang berada di dalam bangkai ikan dan belalang 6. darah bangkai yang di seruduk binatang pemburu 7. darah di bangkai yang mati karena anak panah 8 & 9. sperma dan air susu yang keluar berwarna darah. 10. janin binatang yang disembelih secara syar’i.
  2. Hukum air susu.

Air susu binatang yang halal dimakan hukumnya suci, sedangkan air susu binatang yang tidak halal dimakan hukumnya najis kecuali air susu anak Adam walaupun tidak halal dimakan namun hukum air susunya suci.

  1. Hukum madzi dan wadi adalah najis sebagaimana air kencing sehingga keduanya membatalkan wudlu’.
  2. Ada tiga pendapat di dalam menyikapi hukum sperma :
  1. Semua sperma binatang hukumnya suci kecuali sperma anjing, babi dan keturunan keduanya. Ini adalah pendapat imam Nawawi dan merupakan pendapat Mu’tamad.
  2. Sperma anak Adam hukumnya suci, sedangkan sperma yang lain hukumnya najis. Ini adalah salah satu pendapat imam Syafi’i.
  3. Sperma anak Adam dan binatang yang halal dimakan hukumnya suci, sedangkan sperma binatang yang tidak halal dimakan hukumnya najis.
  1. Telur hukumnya suci jika keluar dari binatang suci walaupun dagingnya tidak halal dimakan. Jika ada binatang yang mengeluarkan atau memuntahkan telur maka hukum telur tersebut mutanajis tidak najis dan bisa disucikan dengan dibasuh jika keluar dalam keadaan keras, sekira ada potensi menetas.
  2. Hukum cairan di vagina perempuan. Yaitu cairan putih yang mirip di antara madzi dan keringat, yang keluar dari bagian luar atau dalam vagina wanita. Sebagaimana di dalam kitab Tuhfah dijelaskan secara ringkas bahwa hukum cairan tersebut terbagi menjadi tiga :

-   Suci secara pasti, yaitu cairan yang keluar dari bagian vagina yang wajib dibasuh ketika istinja’, yaitu bagian yang nampak ketika jongkok.

-   Najis secara pasti, yaitu cairan yang keluar dari bagian dalam vagina yang tidak terjangkau penis saat bersenggema.

-   Suci menurut pendapat al Ashah, yaitu cairan yang keluar dari bagian dalam vagina yang tidak wajib di basuh saat istinja’ namun tidak terjangkau penis saat bersenggama.

  1. Najis yang di ma’fu terbagi manjadi empat :
  1. Najis yang dima’fu ketika mengenai pakaian dan air, yaitu najis yang tidak terlihat oleh mata.
  2. Najis yang dima’fu ketika mengenai pakaian bukan air, seperti darah sedikit.
  3. Najis yang dima’fu ketika mengenai air tidak pada pakaian, yaitu bangkai binatang yang memiliki darah yang tidak mengalir seperti lalat dan semut.
  4. Tidak dima’fu secara mutlak, yaitu selain najis-najis di atas.

-       Najis-Najis Yang Menjadi Suci

Dengan Istihalah (الاستحالة)

Istihalah adalah perubahan sesuatu dari satu sifat ke sifat yang lain.

Ada tiga najis yang menjadi suci dengan istihalah dan tidak suci dengan cara di basuh , yaitu :

  1. Arak yang telah menjadi cukak dengan sendirinya. Yaitu berubah dari sifat arak ke bentuk sifat cukak tanpa di campur / tercampur sesuatu yang lain. Sebagaimana ungkapan penyusun Shofwatuk Zubad :

“ arak menjadi suci ketika menjadi cukak

Jual Kain Tenun

Dengan sendirinya, walaupun mendidih atau di pindah”

  1. Kulit bangkai ketika di samak. Yang dimaksud dengan samak adalah membersihkan sisa-sia darah dan daging yang dapat menyebabkan busuk dengan menggunakan barang-barang yang terasa pedas seperti buah akasiah, tawas dan kulit delima. Dan tidak apa-apa walaupun menggunakan barang najis seperti kotoran burung dara. Kulit bangkai yang telah di samak hukumnya suci, luar maupun bagian dalam.

Batasan kulit yang bisa suci dengan cara di samak adalah kulit yang dihukumi najis sebab mati. Sehingga kulit babi dan anjing tidak bisa suci dengan cara di samak, karena keduanya sudah di hukumi najis sebelum mati.

Tanda kulit bangkai yang telah suci adalah sudah mencapai keadaan yang seandainya kulit tersebut direndam di air maka tidak akan membusuk.

  1. Najis yang telah menjadi binatang hidup, seperti ulat yang keluar dari bangkai binatang. Sesungguhnya ulat terebut keluar dari bangkai yang najis.

Sebagian ulama’ menambahkan najis-najis yang menjadi suci dengan cara istihalah, yaitu darah yang telah berubah menjadi air susu, sperma, segumpal darah dan segumpal daging. Darah kijang yang berubah menjadi misik dan yang lainnya.

-       Pembagian Najis Dan Cara Menghilangkannya

Pertama najis mughaladhah. Yaitu najis anjing, babi dan keturunan salah satunya, karena ada kaedah yang menyebutkan :

“dalam status najis, anak mengikuti salah satu induknya yang terendah”

Disebut mughaladhah karena sariat memberatkan hukumnya.

Cara menghilangkan najis mughaladhah : najis mughaladhah bisa menjadi suci dengan tujuh kali basuhan dengan mencampur salah satu basuhannya dengan debu. Yang paling afdlol adalah mencampur debu pada basuhan pertama, sehingga kalau ada sesuatu yang terkena percikan basuhan setelahnya, maka cukup membasuhnya dengan air tanpa debu dengan jumlah basuhan yang tersisa.

Penyusun Shofwatul Zubad berkata :

“ najis babi itu sebagaimana najis anjing

Yaitu wajib di basuh tujuh kali di sertai dengan debu”

Ada tiga cara dalam mencampurkan debu :

  1. Mencampur air dengan debu hingga menjadi keruh kemudian membasuhkannya ke tempat yang terkena najis. Ini adalah cara terbaik.
  2. Meletakkan debu di tempat yang terkena najis terlebih dahulu kemudian menyiramkan air padanya.
  3. Menuangkan air ke tempat yang terkena najis terlebih dahulu kemudian menaburkan debu di atasnya.

Kedua : Najis Mukhafafah.

Disebut Mukhafafah karena sariat meringankan hukumnya. Mukhafafah adalah najis yang memenuhi empat syarat :

  1. Berupa air kencing.
  2. Keluar dari balita.
  3. Balita yang belum berusia dua tahun.
  4. Tidak pernah mengkonsumsi selain Asi.

Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, maka statusnya menjadi najis mutawasithah.

Cara menghilangkan najis Mukhafafah : najis Mukhafafah bisa menjadi suci dengan cara diperciki air secara merata hingga menghilangkan najis dan sifat-sifatnya.

Penyusun Shofwatul Zubad berkata :

“kencingnya bocah yang tidak pernah mengkonsumsi selain Asi

Itu cukup diperciki air hingga merata ke seluruh tempat yang terkena najis”

Ketiga Najis Mutawasithah.

Yaitu najis selain dua bagian di atas. Di sebut mutawasithah karena sariat meletakkan hukumnya di antara dua najis di atas. Dan najis ini terbagi menjadi dua :

  1. Najis hukmiyah. Di sebut hukmiyah karena hukum tempatnya najis tanpa ada sifat-sifat najis yang wujud di sana, baik berupa bau, warna atau rasa.

Cara manghilangkan najis hukmiyah yaitu dengan hanya mengalirkan air di tempat yang terkena najis saja.

  1. Najis Ainiyah, yaitu yang masih terdapat warna, bau atau rasanya. Disebut ainiyah karena ain najisnya masih ada. Dan ada yang mengatakan bahwa penamaan ini karena najis tersebut bisa di lihat oleh mata.  Cara menghilangkan najis ainiyah adalah membasuh dengan air hingga sifat-sifat najis yang berupa warna, bau dan rasa menjadi hilang.

Ketika najis telah hilang dengan sekali basuha,n maka sudah dianggap cukup namun sunnah untuk ditambah hingga tiga basuhan. Ketika najis belum hilang dengan sekali basuhan, maka wajib menambah basuhan kedua. Jika belum juga hilang, maka wajib menambah basuhan ketiga. Kalau dengan tiga basuhan beserta menggunakan sabun dan sejenisnya juga belum hilang, maka keadaan ini disebut keadaan yang sulit untuk menghilangkan najis ( حالة التعسر).

Perincian hukum najis ketika sulit di hilangkan (حالة التعسر) :

  1. Jika yang tersisa / tidak hilang hanya warna atau baunya saja, maka hukum tempat yang terkena najis tersebut telah suci.
  2. Jika yang tidak hilang adalah warna sekaligus baunya atau rasanya saja, maka wajib menambah basuhan dengan menggunakan sabun dan sejenisnya hingga sifat-sifat ini menjadi hilang.

Jika pakar dalam hal ini ( أهل الخبرة ) menyatakan bahwa najis ini tidak akan hilang kecuali dengan memotong tempatnya, maka keadaan ini disebut keadaan udzur ( حالة التعذر)

Hukum najis dalam keadaan udzur = hukumnya dima’fu, sholat yang dilakukan besertaan najis ini hukumnya sah, namun jika nanti sudah mungkin dihilangkan, maka wajib di hilangkan.

  • Air Ghusalah (ماء الغسالة) adalah air  yang telah digunakan untuk menghilangkan najis. Hukum air ini seperti air musta’mal, yaitu suci dan tidak mensucikan namun dengan beberapa syarat :
  1. Air tersebut yang dialirkan ke tempat yang terkena najis bukan di masuki barang yang terkena najis, namun menurut imam al Ghazali hal ini bukanlah syarat.
  2. Air tersebut telah terpisah dari tempat yang disucikan.
  3. Sifat-sifat air tersebut tidak mengalami perubahan. Jika mengalami perubahan, maka hukumnya najis.
  4. Kadar air tersebut kurang dari dua qullah. Jika mencapai dua qullah atau lebih dan tidak mengalami perubahan, maka hukumnya suci mensucikan.
  5. Ukuran air tersebut tidak bertambah dengan juga menghitung yang diserap tempat yang dibasuh dan juga kotoran-kotaran  suci yang ikut masuk ke air tersebut.
  6. Tempat yang di basuh telah suci. Sehingga air ghusalah tidak bisa dihukumi suci kecuali tempat yang dibasuh telah menjadi suci.

Keterangan kitab al Minhaj karya syekh Zakariyah al Anshori mengenai air Ghusalah, “air basuhan najis yang kurang dari dua qullah dan telah  terpisah dari tempat yang dibasuh tanpa ada perubahan dan tidak bertambah ukurannya, serta tempat yang dibasuh telah suci, maka hukum air basuhan tersebut adalah suci”

Sebagaimana ungkapan penyusun Shofwatul Zubad :

“ air basuhan hukumnya seperti hukum tempat yang di basuh

Ketika terpisah dalam keadaan tidak berubah sifat-sifatnya”

“ Ditulis oleh al Habib al Alamah Zain ibn Ibrahim ibn Sumith, semoga Allah memberi perlindungan pada beliau

Demikian artikel yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan bermanfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca Artikel Kami Lainnya >>> Mengamalkan Hadist “Cara Cerdas Berinteraksi dan Bergaul dengan Manusia”

toko buku islam murah
FacebookTwitterGoogle+