Tag Archives: cara mandi junub yg benar

Artikel Ceramah Agama Islam “Cara Mandi Wajib Menurut Islam”

Sirah Nabi Muhammad saw

Artikel Ceramah Agama Islam “Cara Mandi Wajib Menurut Islam”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pengertian Mandi

Secara bahasa mandi mempunyai arti mengalir. Sedangkan secara syara’ adalah meratakan air ke seluruh badan di sertai niat tertentu.

Perbedaan antara lafald Ghuslu (الغُسْلُ), Ghaslu (الغَسْلُ) dan Ghislu (الغِسْلُ) .

Ghuslu yang terbaca dlammah mempunyai arti meratakan air ke seluruh badan.

Ghaslu yang terbaca fathah mempunyai arti nama basuhan sebagian anggota badan.

Ghislu yang terbaca kasroh mempunyai arti sesuatu yang dicampurkan ke air seperti sabun dan yang lain.

Artikel Ceramah Agama Islam Cara Mandi Wajib Menurut IslamHukum Mandi Ada Lima :

  1. Wajib, yaitu ketika nadzar untuk melakukan mandi sunnah, dan mandi dalam enam keadaan diantaranya saat keluar sperma.
  2. Sunnah, seperti mandi Jum’at dan dua hari raya.
  3. Mubah, yaitu mandi guna menyegarkan atau membersihkan badan tanpa disertai niat ibadah dan niat-niat baik lainnya.
  4. Makruh, mandi dengan menyelam bagi orang yang berpuasa.
  5. Haram dan sah, yaitu mandi menggunakan air hasil ghasab. Haram dan tidak sah, yaitu mandinya wanita yang dalam keadaan haidl dengan niat ibadah.

Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi

Hal-hal yang mewajibkan mandi ada enam dan terbagi menjadi dua. Tiga hal tertentu pada wanita, yaitu haidl, nifas dan melahirkan. Tiga hal yang lain terjadi pada laki-laki dan perempuan, yaitu jima’/berhubungan suami istri, keluar sperma dan mati.

Penjelasan Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi

  1. Memasukkan hasyafah ke farji.

Yang dimaksud dengan memasukkan hasyafah adalah memasukkan ujung penis yang disebut dengan Kamrah (كمرة). Batasan farji adalah seluruh anggota yang disebut farji, baik jalan depan atau belakang, milik anak Adam ataupun bukan, hidup maupun sudah mati. Sebagaimana yang diungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“yang mewajibkan mandi adalah keluarnya sperma

Mati, dan memasukkan hasyafah

Ke farji walaupun miliknya orang mati tanpa harus mengulangi mandi si mayyit

Haidl, nifas dan melahirkan.

  1. keluar sperma.

Sperma tidak mewajibkan mandi kecuali sudah keluar dari dalam. Sehingga, jika sperma masih berada di batang penis dan belum keluar, maka belum ada kewajiban mandi.

Syarat-syarat sperma yang mewajibkan mandi ada dua :

  1. Spermanya sendiri. Maka tidak wajib mandi jika yang keluar dari dirinya adalah sperma orang lain, namun sperma orang lain ini membatalkan wudlu’.
  2. Sperma keluar yang pertama kali. Maka tidak wajib mandi jika sperma yang keluar dimasukkan lagi kemudian keluar untuk kedua kalinya, namun sperma yang keluar kedua ini bisa membatalkan wudlu’.

Perbedaan Sperma, Madzi Dan Wadi

-       Sperma adalah cairan putih yang keluar dengan cara muncrat, disebabkan birahi, dan setelahnya akan terasa lemas.

-       Madzi adalah cairan putih bening dan lengket yang keluar ketika bergejolaknya birahi namun tidak sampai klimaks.

-       Wadi adalah cairan putih kasar dan keruh yang keluar setelah kencing atau di saat membawa beban yang berat.

Hukum Saat Keluarnya Ketiga Hal di Atas.

-       Sperma : mewajibkan mandi, tidak membatalkan wudlu’ dan hukumnya suci.

-       Madzi dan wadi : hukum keduanya sebagaimana air kencing, yaitu membatalkan wudlu’ dan najis.

Tanda-tanda sperma

Ketika wujud salah satu tandanya, maka wajib mandi. Tidak disyaratkan harus wujud semuanya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Adapun tanda-tandanya ada tiga :

  1. Terasa nikmat saat keluar, yaitu keluar di sebabkan birahi.
  2. Keluarnya muncrat.
  3. Saat basah baunya seperti adonan atau mayang kurma, dan ketika kering baunya seperti putih telur.

Cairan putih dan terasa lemas setelahnya bukanlah tanda khusus bagi sperma, namun biasanya memang demikian. Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“sperma dapat di ketahui dengan terasa nikmat

Saat keluarnya, berbau mayang kurma atau bau adonan”

#   Permasalahan

-       Ketika ragu-ragu apakah yang keluar sperma ataukah madzi, maka bagaimanakah hukumnya ??

jawaban : diperkenankan memilih. Jika memilih sperma, maka wajib mandi. Dan jika memilih madzi, maka wudlunya batal dan wajib membasuh tempat yang terkena cairan tersebut. Sedangkan yang afdlal adalah mengumpulkan keduanya, yaitu dengan cara melakukan mandi dan membasuh tempat/ bagian yang terkena cairan tersebut. Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“barang siapa ragu, apakah yang nampak adalah sperma

Ataukah itu madzi?? Maka di antara keduanya boleh memilih”

Perkara ketiga yang mewajibkan mandi adalah haild. Bagi wanti yang haidnya telah berhenti, maka wajib mandi. Yang ke empat adalah nifas. Bagi wanita yang nifasnya telah berhenti, maka wajib mandi. Yang ke lima adalah melahirkan. Wajib mandi bagi wanita yang melahirkan, walaupun yang di lahirkan berupa segumpal daging atau segumpal darah. Dan yang ke enam adalah meninggal dunia yang akan dijelaskan perinciannya di dalam bab MEMANDIKAN MAYAT.

Fardlunya mandi ada dua :

Pertama : Niat. Waktu pelaksanaan niat adalah di awal basuhan, karena di dalam mandi, seluruh badan di anggap satu anggota. Sebagaimana yang diungkapkan penyusun Shofwtul Zubad :

“ dan niat itu berbarengan dengan awal basuhan

Seperti niat menghilangkan hadats haidl atau jinabat yang telah tertentu”

-       Permasalahan

  1. ketika mengalami dua hal atau lebih yang mewajibkan mandi, seperti jima’ atau keluar sperma, apakah cukup hanya dengan satu niat saja?

Jawaban : sudah dianggap cukup dengan satu niat saja, begitu juga dalam permasalahan mandi sunnah.

  1. Ketika ada tuntutan mandi wajib dan mandi sunnah, apakah cukup hanya dengan satu niat untuk keduanya?

Jawaban : Tidak cukup hanya dengan satu niat, bahkan harus diniati keduanya. Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

“dan ketika niat mandi wajib dan sunnah maka keduanya hasil

Atau niat salah satunya saja, maka yang hasil hanya yang di niati saja”

-       Tata Cara Niat Mandi Wajib

Niat di dalam hati dan sunnah di ucapkan dengan mengucapkan :

“نَوَيْتُ رَفْعَ الْحَدَثِ” “نَوَيْتُ رَفْعَ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ” “نَوَيْتُ فَرْضَ الْغُسْلِ” “نَوَيْتُ الطَّهَارَةِ لِلصَّلَاةِ”

“niat menghilangkan hadats jinabat” atau “ niat menghilangkan hadats besar” atau “ niat mandi wajib” atau “niat bersuci untuk melaksanakan sholat”.

Fardlu kedua adalah meratakan air ke seluruh badan. Sebagaimana yang di ungkapkan penyusun Shofwatul Zubad :

Jual Kain Tenun

“dan fardlunya mandi adalah meratakan air keseluruh badan yang luar

Dari sisi rambut, kuku, tempat tumbuh bulu dan kulit.”

            Hendaknya harus memperhatikan bagian / tempat-tempat yang dikhawatirkan tidak terkena basuhan air, seperti ketiak, lipatan perut, kedua telinga, bagian di antara kedua paha dan kedua pantat.

-       Permasalahan mandinya orang yang belum khitan, yaitu membasuh bagian di bawah kulup yang dipotong ketika khitan.

  1. Saat masih hidup wajib mengalirkan air pada bagian di bawah kulup yang belum dikhitan. Jika air sulit masuk ke bagian tersebut, maka wajib sholat seperti orang yang tidak menemukan air dan debu (فاقد الطهورين) dan wajib qodlo’ ketika sudah mampu untuk membasuhnya.
  2. Ketika sudah meninggal. Jika sulit membasuh bagian di bawah kulupnya, maka wajib membasuh bagian yang memungkinkan dan tidak boleh disholati menurut imam Romli. Sedangkan menurut imam ibn Hajar, setelah di mandikan, maka wajib ditayamumi kemudian di sholati.

-       Kesunahan-kesunahan mandi

Jumlahnya banyak di antaranya adalah :

  1. Basmalah.
  2. Bersiwak.
  3. Berdiri.
  4. Menghadap kiblat.
  5. Membasuh kedua telapak tangan.
  6. Berkumur dan memasukkan air ke hidung.
  7. Kencing terlebih dahulu sebelum mandi jika mandi karena keluar sperma.
  8. Menghilangkan najis-najis terlebih dahulu.
  9. Melakukan wudlu’ sebelum, setelah atau saat mandi.
  10. Memperhatikan bagian-bagian yang rawan tidak terbasuh.
  11. Menyelah-nyelah rambut.
  12. Menggosok badan.
  13. Mendahulukan anggota kanan.
  14. Mengulangi hingga tiga kali.
  15. Terus menerus (الموالاة).
  16. Menutup aurat saat mandi.
  17. Air yang digunakan tidak kurang dari satu Mud.
  18. Mandi di tempat yang aman dari percikan air.

-       Tata Cara Yang Sunnah Dalam Pelaksanaan Mandi

  1. Menghilangkan kotoran sebelum mandi, baik berupa sperma, najis seperti kencing atau yang lainnya.
  2. Menghadap kiblat, membaca basmalah, kemudian bersiwak, membasuh kedua telapak tangan, lalu berkumur dan memasukkan air ke hidung sebanyak tiga kali. Semuanya disertai niat melakukan kesunahan mandi.
  3. Membasuh kedua farji dan bagian sekitarnya di sertai niat menghilangkan hadats besar kedua bagian ini atau niat mandi sunnah seperti mandi Jum’at.
  4. Sebelum mandi melakukan wudlu’ secara sempurna beserta kesunahan-kesunahannya, sehingga sunnah mengulangi siwak, membasuh kedua telapak tangan, berkumur dan istintsaq. Saat wudlu’, wajib untuk menutup kemaluan dan dubur, dan sunnah menutup bagian aurat yang lain.

-       Perincian Niat Wudlu’

  1. Jika memiliki hadats kecil di samping hadats besar, maka yang harus dilakukan adalah niat menghilangkan hadats.
  2. Jika tidak memiliki hadats kecil, maka niat sunnah mandi.
  1. Menuangkan air ke atas kepala disertai niat menghilangkan hadats jinabah atau mandi sunnah.
  2. Memperhatikan sela-sela badan.
  3. Menuangkan air ke bagian kanan depan kemudian bagian kanan belakang, lalu bagian kiri depan dan terakhir bagian kiri belakang.

-       Permasalahan

  1. Apa alasan sunnah mendahulukan basuhan ke dua farji di sertai niat menghilangkan hadats besar atau niat mandi sunnah dari keduanya??

Jawaban : agar di tengah-tengah pelaksanaan mandi tidak butuh untuk membasuh dan menyentuhnya lagi, sehingga wudlu’nya tidak batal. Jika tidak demikian, maka wudlu’nya batal dan wajib melakukan kembali setelah mandi.

  1. Apakah hadats kecil bisa hilang secara otomatis dengan melakukan mandi besar ataukah tidak ??

Jawaban : hadats kecil bisa hilang dengan mandi besar walaupun tidak niat menghilangkan hadats kecil, jika memang yang di lakukan adalah mandi wajib, seperti mandi jinabat, dan wudlu’nya tidak batal di tengah-tengah pelaksanaan mandi besar. Jika mandi sunnah maka hadats kecilnya tidak hilang hanya dengan melakukan  mandi tersebut, bahkan harus melakukan wudlu’ sesuai dengan urutan anggotanya, baik melakukan wudlu’ setelah, sebelum atau di tengah-tengah pelaksanaan mandi.

-       Mandi-Mandi Sunnah.

Mandi sunnah jumlahnya banyak, diantaranya adalah :

  1. Mandi Jum’at. Ini adalah mandi yang paling afdlol, karena ada yang berpendapat hukum mandi ini adalah wajib. Waktunya mulai dari terbitnya fajar Shodiq sampai waktu yang tidak memungkinkan untuk menghadiri sholat Jum’at. Mandi ini disunnahkan bagi orang laki-laki yang hendak melaksanakan sholat Jum`at. Dan yang paling afdlol adalah melaksanakan mandi ketika hendak berangkat.
  2. Mandi dua hari raya. Waktunya mulai tengah malam sampai terbenamnya matahari esok harinya. Kesunahan mandi ini karena hari raya, maka disunnahkan bukan hanya bagi orang yang hendak melakukan sholat Ied, bahkan disunnahkan bagi siapapun termasuk wanita haidl dan orang yang belum tamyiz.
  3. Mandi bagi orang yang telah memandikan mayat, walaupun mayat orang kafir dan yang memandikan dalam keadaan haidl atau nifas. Waktunya mulai dari selesai memandikan sampai ada indikasi untuk tidak melakukannya.
  4. Mandi sholat istisqo’. Jika sholat sendiri, maka waktu pelaksanaan mandi adalah ketika hendak melaksanakan sholat. Jika sholat berjama’ah, maka waktunya mulai berkumpulnya jama’ah sampai pelaksanaan sholat.
  5. Mandi gerhana rembulan dan matahari. Waktunya mulai awal perubahan keduanya sampai pelaksanaan sholat gerhana.
  6. Mandi bagi orang yang baru masuk islam. Mandi ini hukumnya sunnah jika memang dia tidak junub saat masih kafir. Jika tidak demikian, maka wajib mandi untuk menghilangkan hadats besar.
  7. Mandi bagi orang yang sembuh dari gila atau sadar dari pingsan. Hal ini dikarenakan ungkapan imam Syafi’i, “sedikit sekali orang gila yang tidak mengeluarkan sperma”.
  8. Mandi setelah cantuk, yaitu mengeluarkan darah.
  9. Mandi untuk masuk masjid.
  10. Mandi setiap malam di bulan Romadlon, agar semangat di dalam melakukan ibadah di malam Romadlon. Waktunya mulai magrib.
  11. Mandi-mandi saat haji dan umroh, yaitu mandi ketika ihram, masuk Makkah, wukuf di Arafah, thowaf, dan melempar jumrah. Menurut pendapat yang kuat (mu’tamad) tidak sunnah melakukan mandi karena mabit di Muzdalifah sebab terlalu dekat dengan mandi wukuf di Arafah.
  12. Mandi karena hendak masuk kota Madinah.
  13. Mandi karena hendak menghadiri perkumpulan-perkumpulan baik kaum muslimin.

Sebagaimana ungkapan penyusun Shofwatul Zubad :

“…………………………………………………….

Mandi sunnah adalah mandi hendak menghadiri sholat Jum’at

Kedua hari raya, sembuh dari gila, baru masuk islam

Gerhana, istisqo’, dan karena ihram

Masuk Makkah, wukuf di Arafah

Melempar jumrah, dan mabit di Muzdalifah

Mandi bagi orang yang memandikan mayat

Sebagaimana bagi orang yang masuk pemandian air hangat atau orang yang cantuk”

“ Ditulis oleh al Habib al Alamah Zain ibn Ibrahim ibn Sumith, semoga Allah memberi perlindungan pada beliau

Demikian artikel yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan bermanfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca Artikel Kami Lainnya >>> Mengamalkan Hadist “Cara Cerdas Berinteraksi dan Bergaul dengan Manusia”

toko buku islam murah
FacebookTwitterGoogle+